Moderasi Beragama di Bulan Ramadan, Kunci Harmoni di tengah Perbedaan

  • 27 Feb 2026 11:26 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Bulan suci Ramadan menjadi momentum memperkuat nilai keseimbangan dalam kehidupan beragama. Hal itu disampaikan Ustaz Syahril Sidik, Kepala Madrasah Tsanawiyah Istiqlal, dalam program Syiar Ramadan di PRO 1 RRI Jakarta, mengangkat tema “Ramadan dan Moderasi Beragama: Islam yang Menenangkan dan Mencerahkan.”

Dalam dialog tersebut, Ustaz Syahril menjelaskan bahwa moderasi beragama dapat dimaknai melalui konsep wasathiyah, yakni sikap berada di tengah, adil, dan tidak berlebihan. Moderasi, kata dia, tidak semata-mata dibatasi pada ranah agama, melainkan juga dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

“Moderasi itu artinya tidak berlebih-lebihan dan tidak pula mengurangi. Dalam praktik ibadah misalnya, bersedekah itu baik, tetapi tidak berarti seluruh harta diinfakkan tanpa memikirkan kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Menurutnya, keseimbangan menjadi kunci agar nilai ibadah tetap selaras dengan tanggung jawab sosial. Prinsip yang sama juga relevan dalam konteks kebijakan publik. Seorang penegak hukum yang moderat, lanjutnya, akan melahirkan aturan yang adil bagi semua pihak, tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas, ataupun sebaliknya.

Ia menegaskan bahwa moderasi beragama penting untuk mencegah sikap ekstrem dalam beragama, termasuk tindakan kekerasan yang pernah mencederai wajah agama. Meski kondisi Indonesia saat ini dinilai jauh lebih kondusif, kewaspadaan dan upaya preventif tetap diperlukan agar radikalisme tidak kembali tumbuh.

Namun demikian, moderasi bukan hanya tentang menghindari sikap berlebihan. Ustaz Syahril juga mengingatkan bahaya sikap meremehkan ajaran agama. Ia berbagi pengalaman pertemuannya dengan seorang Muslim asal Amerika Serikat yang baru pertama kali berkunjung ke Indonesia. Tamu tersebut mengaku terkesan dengan jumlah populasi Muslim terbesar di dunia, tetapi juga menyampaikan keprihatinan atas praktik keberagamaan yang dinilainya belum sepenuhnya mencerminkan nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini menjadi refleksi bagi kita. Jangan sampai kita hanya besar secara jumlah, tetapi lemah dalam kualitas pengamalan,” katanya.

Ramadan, lanjutnya, merupakan waktu yang tepat untuk memperbaiki keseimbangan antara ibadah ritual dan kepedulian sosial. Di tengah perbedaan pemahaman keagamaan yang ada di masyarakat, Ramadan justru harus menjadi perekat, bukan pemicu perpecahan.

Ia mencontohkan suasana kebersamaan yang terasa ketika Ramadan berdekatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek. Di berbagai daerah, masyarakat menunjukkan sikap saling menghormati dan bahkan berkolaborasi dalam kegiatan sosial. Fenomena ini, menurutnya, mencerminkan esensi moderasi beragama.

Ustaz Syahril menekankan bahwa setiap pemeluk agama meyakini kebenaran ajarannya masing-masing. Namun pada saat yang sama, perlu diakui bahwa setiap agama memiliki nilai-nilai kebaikan yang bisa menjadi titik temu untuk bekerja sama dalam membangun kehidupan yang harmonis.

“Di momentum Ramadan ini, mari kita fokus pada kebaikan-kebaikan yang bisa memperkuat persatuan. Jika ada nilai yang sama, mengapa tidak kita kolaborasikan demi kemaslahatan bersama,” tuturnya.

Melalui semangat moderasi beragama, Ramadan diharapkan tidak hanya menghadirkan ketenangan spiritual, tetapi juga mencerahkan kehidupan sosial, memperkuat persaudaraan, serta meneguhkan Indonesia sebagai rumah bersama yang damai dan berkeadilan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....