Bank Indonesia Buka Penukaran Uang Baru Lebaran
- 24 Feb 2026 12:23 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta — Bank Indonesia kembali membuka layanan penukaran uang baru menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026 melalui aplikasi PINTAR. Meski di balik antrean digital dan jadwal kas keliling, tersimpan praktik ekonomi, budaya, dan simbol sosial yang terus berulang setiap Lebaran namun tidak ada catatan sejarah baku tentang angpau Lebaran, kata pengamat.
Melalui laman resminya yang kami akses pada Selasa, 24 Februari 2026, Bank Indonesia menyiapkan layanan penukaran uang Rupiah melalui kas keliling sebagai bagian dari program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri 2026. Layanan ini memungkinkan masyarakat memperoleh uang layak edar dengan pecahan sesuai kebutuhan Lebaran.
Bank sentral menegaskan bahwa pemesanan penukaran uang dilakukan secara daring melalui aplikasi PINTAR. “Pemesanan penukaran uang Rupiah dapat dilakukan melalui aplikasi PINTAR selama kuota masih tersedia,” ujar Bank Indonesia dalam informasi resminya.
Untuk wilayah Pulau Jawa, pemesanan dibuka mulai 24 Februari 2026 pukul 08.00 WIB, sedangkan wilayah luar Pulau Jawa dimulai 27 Februari 2026. Penukaran uang dijadwalkan berlangsung pada 28 Februari hingga 15 Maret 2026 dengan syarat membawa KTP dan bukti pemesanan.
Di balik layanan kas keliling tersebut, penukaran uang baru tidak berdiri sendiri sebagai praktik ekonomi. Tradisi ini melekat pada kebiasaan masyarakat membagikan angpau saat Lebaran, yang terus mengalami pergeseran makna.
Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Moordiati SS MHum, menyebut tidak ada catatan sejarah baku tentang angpau Lebaran. “Tidak ditemukan adanya catatan sejarah mengenai angpau Lebaran, tetapi ada cerita kaisar yang datang ke Jawa dan memberi uang sebagai tanda tali asih,” ujarnya dikutip website resmi Universitas Airlangga.
Menurut Moordiati, praktik tersebut berkembang menjadi kebiasaan orang tua memberi kepada yang lebih muda sebagai simbol kasih sayang. “Kemudian kalau tidak ada angpau saat Lebaran rasanya hambar,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Islam tidak dikenal konsep angpau Lebaran. Kebiasaan ini merupakan hasil akulturasi budaya Islam dan Tionghoa yang menguat seiring waktu. “Pemberian ini merupakan adopsi dari kebudayaan Islam dan Tionghoa, hasil akulturasi yang berkembang sampai saat ini,” ucapnya.
Seiring perubahan zaman, angpau tidak lagi dipandang sebagai hadiah semata. Moordiati menilai praktik ini telah bergeser menjadi keharusan sosial. “Sekarang kalau tidak memberi angpau, kesannya bukan seperti hari raya,” ujarnya.
Penggunaan uang baru dalam angpau mulai menguat sejak dekade 1990-an. Masyarakat memandang uang baru lebih pantas karena Lebaran identik dengan kesucian dan pembaruan. “Hari raya identik dengan sesuatu yang suci, makanya semuanya serba baru, termasuk uang,” kata Moordiati.
Namun, di balik makna simbolik tersebut, terdapat dampak sosial yang mengemuka. Moordiati menilai pemberian angpau dapat mencerminkan status sosial pemberi. “Status sosial semakin tinggi, nominal uang yang diberikan juga semakin tinggi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan potensi dampak negatif dari budaya ini. “Niat silaturahmi jadi tidak murni dan bisa membentuk mentalitas peminta,” ucap Moordiati.
Panduan Mendaftar Penukaran Uang di PINTAR
- Akses laman resmi https://pintar.bi.go.id
- Pilih menu Penukaran Uang Rupiah Melalui Kas Keliling.
- Tentukan provinsi dan lokasi penukaran yang tersedia.
- Isi data diri menggunakan NIK-KTP, nomor telepon, dan email aktif.
- Pilih jumlah pecahan uang yang ingin ditukarkan.
- Unduh atau cetak bukti pemesanan untuk dibawa saat penukaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....