Puasa Ramadan Bangun Empati dan Kepedulian
- 21 Feb 2026 12:05 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Siaran Syiar Ramadan RRI Pro 1 Jakarta bekerja sama dengan Masjid Istiqlal kembali mengangkat makna puasa sebagai sarana membangun empati sosial. Dalam dialog tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi momentum memperkuat kepedulian terhadap sesama.
Narasumber KH. Mas’ud Halimin, MA menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi bertakwa yang mampu menjaga harmoni. Menurutnya, ketakwaan tidak hanya tercermin dari ibadah ritual, tetapi juga dari hubungan dengan manusia, alam, dan diri sendiri.
“Takwa tidak hanya soal rajin beribadah. Minimal kita mampu menyelaraskan hubungan dengan Allah, sesama manusia, alam semesta, dan diri sendiri,” ujarnya dalam perbincangan di Jumat, 20 Februari 2026 tersebut.
Ia mengingatkan bahwa ibadah tanpa perubahan perilaku sosial belum mencerminkan spiritualitas yang utuh. Seseorang yang rajin beribadah tetapi masih menyakiti orang lain dinilai belum memahami hakikat ibadah.
“Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Kalau perilaku kita masih buruk, maka puasa itu hanya seperti diet, bukan latihan spiritual,” tegasnya.
Dalam dialog interaktif itu, ia menjelaskan bahwa Ramadan mengajarkan empati melalui pengalaman merasakan lapar dan dahaga. Pengalaman tersebut seharusnya mendorong seseorang memahami penderitaan orang lain dan mewujudkannya dalam tindakan nyata.
Ia menyebut berbagi makanan, bersedekah, dan menolong sesama sebagai wujud konkret kepedulian sosial. Bahkan, menurutnya, sedekah tidak selalu berbentuk materi.
“Setiap Muslim wajib bersedekah. Jika tidak punya harta, membantu orang lain adalah sedekah, bahkan menahan diri dari keburukan juga sedekah,” jelasnya.
Di akhir dialog, ia menekankan bahwa Ramadan merupakan proses pendidikan spiritual yang berkelanjutan. Keberhasilan puasa diukur dari perubahan sikap yang tetap terjaga setelah Ramadan berakhir.
Melalui siaran tersebut, masyarakat diajak menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat solidaritas dan empati sosial. Kebaikan sekecil apa pun yang dilakukan dengan ikhlas diyakini memiliki nilai besar dalam kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....