Awal Ramadan, Harga Cabai di Jakbar Melonjak Tajam
- 19 Feb 2026 14:24 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Memasuki awal Ramadan, sejumlah komoditas pangan di Pasar Tomang Barat, Grogol Petamburan, Jakarta Barat mengalami kenaikan harga secara signifikan.
Salah satunya kenaikan yang paling mencolok terjadi pada komoditas cabai rawit merah dan bawang yang mencapai hingga dua kali lipat dari harga normal.
Salah satu pedagang di Pasar Tomang Barat, Nuh (65) mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini sudah mulai terasa sejak satu minggu sebelum memasuki bulan puasa.
“Yang naik banyak tuh cabai sama bawang yang tinggi. Yang paling parah rawit setan, dari harga normal Rp60.000 sekarang tembus Rp100.000 per kilogram bahkan kemarin sempat mencapai Rp110.000 per kilogramnya,” kata Nuh saat ditemui di Pasar Tomang Barat, Kamis, 19 Februari 2026.
Selain cabai, Nuh menyampaikan bahwa harga bawang merah juga meningkat dari Rp35 ribu menjadi Rp55 ribu per kilogram. Sementara itu, harga telur naik dari Rp28 ribu menjadi Rp31 ribu per kilogram.
“Kalau bawang putih memang sudah lama naiknya. Kalau untuk cabai-cabai itu baru naiknya kemarin waktu sebelum puasa,” ucapnya.
Wanita yang telah berjualan selama puluhan tahun itu menyebut, flutuasi harga sangat bergantung pada pasokan di pusat grosir Kramat Jati. Jika stok kosong, kata Nuh, harga akan langsung melejit mengikuti permainan pasar di tingkat bandar.
“Kita enggak bisa memprediksikan harga pada pertengahan bulan puasa. Biasanya kalau di pusat ada barang banyak, mereka pasarannya murah, tetapi kalau barangnya kosong, biasanya harganya langsung melejit harganya,” tuturnya.
“Jadi tergantung, kalau di pusatnya barangnya kosong langsung naik harganya. Tetapi kalau banjir (barangnya banyak) di sana dan numpuk kemudian tidak terjual, harganya akan langsung jatuh,” sambungnya.
Menurut Nuh, kenaikan harga tersebut sangat berdampak pada daya beli masyarakat. Ia mengaku omzet penjualan menurun karena pembeli mengurangi jumlah belanja.
“Omzetnya pasyi berkurang lah, karena kan pembelinya juga berkurang. Mungkin karena harganya terlalu tinggi ya. Apalagi kalau pedagang misalnya bubur ayam, ayam geprek, itu kan cabai istilahnya bonus. Jadi mungkin dia ngirit-ngirit gitu,” ujarnya.
Ia berharap ke depan harga bahan pokok dapat lebih stabil dan terjangkau masyarakat, tanpa merugikan petani maupun pedagang.
“Harapannya ke depan ya kita sih mintanya ya stabil, harga terjangkau sama masyarakat kecil. Kalau minta murah juga enggak, karena kan kalau murah kasian juga para petani. Kita imbang aja lah, bisa dijual, bisa membeli gitu aja,” tandasnya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....