Pelatih yang Sering Diremehkan Itu Kini Membuat Dunia Mulai Takut pada Jepang

  • 15 Jun 2026 13:16 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Di dunia sepak bola modern, perhatian biasanya tertuju pada pelatih-pelatih besar dengan koleksi trofi mengilap, konferensi pers yang penuh kutipan menarik, atau strategi yang menjadi bahan perdebatan setiap pekan. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu sosok yang kerap luput dari sorotan. Namanya Hajime Moriyasu. Bahkan di negaranya sendiri, Moriyasu tidak selalu mendapat pujian. Keputusannya sering dipertanyakan, strateginya beberapa kali diragukan, dan tidak sedikit yang menganggapnya belum berada di level pelatih elite dunia. Tetapi satu demi satu hasil pertandingan mulai mengubah cara pandang itu.

Terbaru, Jepang berhasil menahan imbang Belanda 2-2 di Piala Dunia 2026, pada laga 15 Juni 2026, setelah dua kali tertinggal. Di balik kebangkitan tersebut, ada sentuhan Moriyasu yang kembali menunjukkan bahwa pelatih yang sering diremehkan itu mungkin sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan banyak orang.

Filosofi yang Membuat Jepang Berbahaya

Salah satu kekuatan terbesar Moriyasu adalah kemampuannya membaca pertandingan. Ketika banyak pelatih bertahan pada rencana awal, Moriyasu tidak ragu mengubah pendekatan di tengah laga. Pergantian pemain yang dilakukannya sering kali bukan sekadar mengganti tenaga, melainkan mengubah ritme permainan.

Melawan Belanda, keputusan memasukkan pemain-pemain segar membuat Jepang tampil lebih agresif dan akhirnya mampu mencuri satu poin penting. Inilah yang membuat Jepang berbahaya. Mereka bukan lagi tim yang hanya mengandalkan disiplin dan kerja keras. Jepang kini memiliki fleksibilitas taktik yang membuat lawan kesulitan menebak langkah berikutnya.

Dari Underdog Menjadi Penantang

Selama bertahun-tahun, Jepang selalu disebut sebagai "kuda hitam." Masalahnya, istilah itu sering kali berarti tim yang menarik tetapi tidak benar-benar diperhitungkan untuk melangkah jauh. Moriyasu perlahan mengubah persepsi tersebut. Pada era kepemimpinannya, Jepang mampu bersaing dengan negara-negara besar dunia. Mereka tidak lagi bermain untuk bertahan hidup. Mereka bermain untuk menang. Mentalitas inilah yang mulai terlihat di Piala Dunia 2026. Saat tertinggal dari Belanda, tidak ada kepanikan. Tidak ada perubahan drastis yang menunjukkan ketakutan. Jepang tetap memainkan sepak bola mereka sendiri.

Hasilnya? Mereka bangkit dua kali.

Sosok yang Mewakili Jepang Modern

Ada alasan mengapa banyak penggemar Jepang menyukai Moriyasu. Ia merepresentasikan karakter yang selama ini melekat pada masyarakat Jepang: disiplin, tenang, rendah hati, dan fokus pada proses. Di era ketika banyak tokoh olahraga membangun citra melalui media sosial dan kontroversi, Moriyasu justru membangun reputasi melalui konsistensi.

Ia mungkin bukan pelatih paling terkenal di dunia. Ia mungkin bukan sosok yang paling sering muncul di halaman depan media. Namun jika Jepang terus melaju jauh di Piala Dunia 2026, dunia mungkin harus mulai mengingat satu nama yang selama ini bekerja dalam diam. Karena terkadang, orang yang paling berbahaya bukanlah yang paling berisik. Melainkan mereka yang terus bekerja tenang, hingga suatu hari membuat seluruh dunia memperhatikan.

Dan saat ini, orang itu bernama Hajime Moriyasu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....