FIFA Temui Jalan Terjal Pasarkan Hak Siar
- 14 Mei 2026 17:45 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Persiapan menuju perhelatan akbar Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko rupanya tidak berjalan semulus yang dibayangkan oleh FIFA. Meskipun turnamen ini diprediksi akan menjadi yang terbesar dengan keikutsertaan 48 tim nasional, federasi sepak bola dunia tersebut kini sedang menghadapi tantangan besar dalam memasarkan hak siar di dua pasar raksasa Asia, yakni India dan China.
Kondisi ini terbilang cukup mengejutkan mengingat kedua negara tersebut memiliki basis massa yang sangat besar, namun hingga saat ini belum ada kesepakatan harga yang tercapai dengan pihak penyiar lokal. Di India, kendala utama yang menghalangi negosiasi adalah perbedaan zona waktu yang sangat mencolok dengan wilayah Amerika Utara.
Sebagian besar pertandingan diperkirakan akan berlangsung pada jam-jam dini hari di India, yakni antara pukul dua hingga lima pagi, sehingga para penyiar merasa keberatan untuk membeli hak siar dengan harga tinggi karena potensi pendapatan dari iklan yang dianggap sangat berisiko pada jam tayang tersebut.
Sementara itu, situasi di China tidak kalah pelik karena dipengaruhi oleh performa tim nasional mereka yang belum mampu bersaing di level tertinggi serta adanya koreksi besar dalam investasi ekonomi olahraga di negara tersebut.
Perusahaan-perusahaan media di China kini cenderung lebih berhati-hati dalam menggelontorkan dana besar untuk konten olahraga jika tidak ada kepastian mengenai partisipasi tim nasional mereka atau jaminan keuntungan komersial yang jelas. Selain faktor prestasi, penonton di China juga dihadapkan pada masalah yang sama dengan India terkait jam tayang pertandingan yang jatuh pada waktu subuh.
Bagi FIFA, belum lakunya hak siar di wilayah yang dihuni oleh hampir tiga miliar penduduk ini tentu menjadi ancaman serius bagi target pendapatan mereka dari sektor penyiaran. Jika kesepakatan tidak segera ditemukan, FIFA tidak hanya kehilangan potensi finansial yang masif tetapi juga kehilangan kesempatan besar untuk memperluas popularitas sepak bola di kawasan Asia yang sedang berkembang.
Kini publik menunggu apakah FIFA akan bersedia menurunkan harga penawaran mereka atau tetap bertahan dengan risiko kehilangan penonton dari dua negara dengan populasi terbesar di dunia tersebut.
(Argia Putri Ferdiansyah - Institut Bisnis & Informatika Kosgoro 1957)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....