Bukan Sekadar Hobi, Pecatur Kolong Tol Suarakan Harapan Masa Depan Catur Indonesia

  • 27 Jun 2026 19:21 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Di bawah deru mesin kendaraan yang melintasi Tol Sungai Bambu, Jakarta Utara, sebuah komunitas pecatur terus bergeliat. Meski hanya beralaskan bangku kayu seadanya dan terlindung oleh beton tol yang kokoh, tempat ini menjadi saksi bisu ketajaman strategi para pecatur lokal yang memimpikan masa depan lebih cerah bagi olahraga asah otak ini.

Didi Kurniawan (30), salah satu pecatur rutin di kawasan Jalan Bugis, mengungkapkan bahwa catur bukan sekadar pengisi waktu luang. Baginya, setiap langkah di atas papan 64 petak adalah latihan analisis yang krusial untuk menghadapi persoalan hidup. Namun, ia menyayangkan minimnya perhatian pemerintah terhadap cabang olahraga ini dibandingkan dengan olahraga populer lainnya seperti sepak bola.

"Catur itu bagian dari olahraga dan peminatnya banyak, tapi bakat dan fasilitas dari pemerintah belum tersalurkan. Kalau kita lihat negara maju seperti Norwegia atau Jerman, catur mendapat perhatian khusus. Di sini, rasanya seperti dianaktirikan," ujar Didi kepada RRI Jakarta, Jumat 26 Juni 2026.

Mimpi Memiliki Sekolah Catur

Didi dan rekan-rekannya memiliki aspirasi besar agar kolong tol tersebut tidak hanya menjadi tempat nongkrong, tetapi juga pusat pembinaan atau "Sekolah Catur". Ia merujuk pada Sekolah Catur Utut Adianto sebagai inspirasi, dan percaya bahwa dengan pembinaan yang tepat, talenta-talenta lokal bisa menembus kancah internasional.

"Harapan saya, pemerintah lebih men-support bakat anak-anak yang terpendam. Kalau ada pembinaan, ada komunitas yang menaungi, saya yakin hasilnya luar biasa. Saya sendiri siap melatih kalau ada wadahnya," tambah Didi, yang mengaku sudah bermain catur selama 17 tahun secara otodidak.

Risiko di Tengah Kenyamanan

Bermain di kolong tol memang memberikan keuntungan tersendiri, seperti perlindungan dari panas matahari dan hujan (anti-bocor). Namun, lokasi ini bukan tanpa risiko. Didi menceritakan pengalaman mendebarkan saat gempa bumi terjadi hingga insiden kecelakaan kendaraan yang terjatuh dari atas jalan tol.

"Suka duka main di sini, yang paling ditakutkan itu kalau gempa, takut roboh. Pernah juga ada mobil terjun dari atas, nyangkut, sampai jatuh kepalanya saja. Itu yang kami khawatirkan," ungkapnya.

Momentum yang Terlewat

Kekecewaan Didi semakin terasa saat momen perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-79. Ia menyayangkan minimnya perlombaan catur yang digelar untuk warga di tingkat lokal. Menurutnya, hari kemerdekaan seharusnya menjadi ajang untuk merayakan potensi bangsa melalui berbagai kompetisi, termasuk catur yang menjadi tolak ukur kualitas sumber daya manusia.

"Agustusan saja kemarin hampir tidak ada perlombaan catur. Padahal ini olahraga yang mendidik. Orang yang main catur itu orang yang berpikir dan terdidik," tutupnya.

Komunitas catur kolong tol Sungai Bambu kini berharap agar suara mereka didengar. Mereka tidak meminta kemewahan, melainkan pengakuan dan dukungan untuk terus mengembangkan olahraga yang mereka cintai demi melahirkan grandmaster-grandmaster baru dari bawah beton Jakarta.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....