Legenda Karateka Nurosi Nurasjati Siap Mundur
- 19 Des 2025 10:16 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta : Di tengah sorak prestasi SEA Games Thailand, ada satu sosok yang melangkah perlahan, memeluk kesunyian yang hanya ia sendiri rasakan.
Dialah Dr.Nurosi Nurasjati, legenda Karate Indonesia, seorang perempuan yang lebih dikenal tidak sebagai pejabat, melainkan sebagai ibu bagi para atlet muda yang ia dampingi.
Rosi hadir bukan untuk panggung kehormatan, melainkan untuk memastikan para atletnya kuat, cukup makan, cukup tidur, cukup percaya diri. Namun perjalanan yang seharusnya menjadi momen mendukung perjuangan Indonesia justru berubah menjadi pengalaman paling pahit dalam kariernya.
Bukan karena kekalahan, melainkan karena selembar surat berisi 17 tuduhan dari Wako Asia, tuduhan yang menurutnya tak berdasar dan sarat fitnah.
Ia, seorang legenda yang puluhan tahun membesarkan nama Indonesia di gelanggang internasional, mendadak berada di tengah pusaran politik olahraga yang dingin dan kejam.
Sosok yang selama ini mengutamakan atlet, kini terpaksa mempertahankan dirinya sendiri dari tuduhan yang menjatuhkan martabatnya.
Saya hanya ingin melindungi atlet… tapi saya malah difitnah.
Setelah menerima surat itu, Rosi yang memiliki dojo di Bandung, berusaha keras mencari perlindungan. Ia menghubungi orang-orang yang selama ini ia percaya. Ia menelepon pimpinan PP KBI. Ia mengirim pesan panjang kepada Ketua NOC Indonesia. Ia menjelaskan, memohon petunjuk, berharap ada tangan yang terulur untuk menahan dirinya dari tekanan.
Namun yang ia temukan bukan perlindungan.
“Ada tuduhan sekejam itu, tapi tidak ada pihak yang memberi solusi. Saat saya melapor, hanya dijawab: ‘Saya sedih mendengar ini.’” ceritanya lirih.kepada Wartawan di Apartemen Sultan Residance, Kamis (18/12/2025) Malam.
Ia kemudian menambahkan, dengan suara yang menahan luka,
“Harusnya ada respect. Masa seorang perempuan yang menjaga mental atlet malah dibiarkan? Saya ini cuma emak-emak yang ingin anak-anak ini bertanding dengan tenang.”
Rosi mengaku telah berkali-kali menelpon para pemimpin organisasi, bahkan menanyakan apakah ia perlu kembali ke Indonesia lebih awal. Jawabannya justru membuatnya bertahan.
“‘Tidak usah pulang duluan, Mbak Rosi,’ begitu kata mereka. Tapi ketika saya benar-benar pulang… telfon saya malah tak diangkat lagi,” kalimat itu menggantung, penuh kecewa.
Tetap memikirkan Indonesia, meski dirinya tersudut
Di tengah tuduhan, tekanan, dan ancaman hilangnya hak mendampingi atlet, Rosi justru memikirkan hal lain, nama Indonesia dan anak-anak atlet yang ia sebut sebagai “keluarga”.
Ia berharap PP KBI, NOC, dan pemerintah berdiri bersama menolak tuduhan yang menurutnya merusak martabat olahraga nasional.
“Kalau tuduhan itu tidak dibantah, sama saja kita mengakuinya. Kalau tidak ada dukungan penolakan, saya memilih mundur.”
Namun sebelum ia benar-benar melangkah pergi, sesuatu terjadi, dukungan dari para atlet mengalir deras, menyentuh, dan menggetarkan hati.
Para atlet berdiri untuknya
Toni Kristian, juara Asia yang dikenal tegas, menyatakan tanpa ragu,
“Kalau Bunda Rosi tidak ada, saya mundur dari kickboxing.”
Andi Mesyara Jerni, masih begitu muda namun tajam nuraninya, bahkan memberanikan diri menyuarakan masalah ini ke DPR.
“Kami ingin keadilan untuk manager kami. Ini tentang harga diri,” ujarnya.
Yang paling menghentak adalah ucapan Jefri Hamonangan Lumbanbatu, pemilik medali emas SEA Games Thailand.
Dengan mata penuh keteguhan, ia berkata,
“Emas ini bukan untuk federasi.
Ini untuk manajer saya. Untuk Ibu Rosi.”
Di dunia olahraga, medali adalah persembahan tertinggi. Namun kali ini, medali emas justru menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
Di balik setiap medali, ada manusia yang berjuang
Bagi para atlet, Rosi bukan sekadar manajer. Ia adalah sosok yang memperbaiki sarung tangan mereka, meredakan ketakutan mereka sebelum naik ring, memeluk mereka ketika mental jatuh, dan meyakinkan mereka bahwa mereka tidak sendirian.
Ia adalah kehangatan di tengah tekanan kompetisi.
Ia adalah rumah bagi para atlet yang sedang bertarung di negeri orang.
Kini, perempuan itu berdiri menanti keadilan.
Bukan hanya demi dirinya, tetapi demi martabat olahraga Indonesia yang ia perjuangkan sejak muda.
Pertarungan Rosi bukan lagi soal menang atau kalah di arena, melainkan mempertahankan nama baik yang ia bangun selama puluhan tahun.
Dan ini bukan sekadar kisah tentang fitnah atau tuduhan. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang ibu, seorang legenda, seorang manusia yang memilih tetap berdiri ketika dunia perlahan menjauh.
Rosi Nurasjati Legenda yang Tidak Pernah Menyerah
Rosi bukan figur biasa. Ia adalah salah satu dari 286 atlet yang menerima gelar Legenda Olahraga Indonesia. Daftar prestasinya panjang, membentang dari PON, SEA Games, Asia, hingga dunia. Ia pernah berdiri di podium tertinggi, mengibarkan merah putih berkali-kali.
Ia pernah menjadi kebanggaan bangsa.
Dan hingga kini, ia masih berjuang agar nama itu tidak ternodai fitnah.
Di balik gemerlap panggung olahraga, kisah Rosi mengingatkan kita bahwa medali bukan satu-satunya bukti perjuangan.
Ada dedikasi, loyalitas, dan keberanian untuk tetap berdiri ketika dunia memilih diam.
Dan di tengah semua itu, sosok itu tetap sama seorang ibu yang tak pernah meninggalkan anak-anak atletnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....