PLTP Gunung Ungaran Dinilai Tak Butuh Air Besar saat Beroperasi

  • 01 Okt 2026 11:26 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran dinilai tidak membutuhkan air dalam jumlah besar setelah memasuki tahap operasi. Kebutuhan air dalam jumlah lebih besar justru terdapat pada tahap pengeboran dan pengembangan fasilitas.

Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), Yoga Aribowo, mengatakan kebutuhan air saat PLTP beroperasi terutama untuk keperluan domestik dan fasilitas penunjang.

“Setelah memproduksi listrik, PLTP tidak akan ada lagi kebutuhan air yang besar, paling hanya untuk domestik kantor atau mess, dan fasilitas lain. Itu kebutuhan airnya tidak akan signifikan,” kata Yoga, melalui keterangan tertulis, Rabu, 30 September 2026.

Menurut Yoga, kebutuhan air pada tahap pengeboran merupakan bagian dari kebutuhan teknis yang telah diperhitungkan dalam pengembangan panas bumi. Besarannya dapat mencapai sekitar 100–200 meter kubik per hari, bergantung pada kedalaman dan kondisi pengeboran.

“Pada tahap pengeboran, kebutuhan air dapat mencapai sekitar 100–200 meter kubik per hari, bergantung pada kedalaman dan kondisi pengeboran,” ujarnya.

Yoga mengatakan sumber air untuk kebutuhan pengembangan PLTP dapat direncanakan dari sumber yang tidak digunakan masyarakat. Salah satu alternatifnya adalah mengambil air dari akuifer dalam atau melakukan penampungan terlebih dahulu.

“Bisa dengan mengambil air dari akuifer dalam, ratusan meter, yang tidak digunakan warga, atau terlebih dahulu membuat pond. Perencanaan sumber air tersebut diperlukan untuk menjaga kualitas dan kuantitas sumber air eksisting di sekitar lokasi pengembangan,” ujarnya.

Yoga juga menjelaskan bahwa sekitar 95 persen fluida yang diproduksikan dari reservoir panas bumi berupa air. Fluida tersebut mengandung sejumlah mineral terlarut, antara lain natrium, kalium, magnesium, klorida, sulfat, dan bikarbonat, serta unsur seperti litium dan boron dalam konsentrasi lebih rendah.

Fluida panas bumi, kata Yoga, dapat dikelola melalui proses treatment dan reinjeksi. Dengan pengelolaan tersebut, fluida hasil produksi dapat dikembalikan ke reservoir sehingga tidak memengaruhi kualitas air permukaan maupun air dekat permukaan.

“Secara hidrologis, reservoir panas bumi dan akuifer air tanah merupakan dua sistem yang berbeda,” ujarnya.

Selain aspek kebutuhan air, Yoga menilai pengembangan PLTP Gunung Ungaran juga berkaitan dengan upaya menekan emisi sektor ketenagalistrikan.

Ia menyebut emisi karbon dioksida (CO2) dari PLTP berada di kisaran 100 gram per kilowatt hour (kWh). Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan emisi PLTU batu bara yang disebut mencapai sekitar 900 gram per kWh.

“Semakin banyak porsi PLTP menggantikan PLTU, akan berkontribusi positif bagi kualitas lingkungan, baik udara, laut maupun air,” kata Yoga.

Dengan rencana kapasitas sekitar 55 megawatt (MW), PLTP Gunung Ungaran dinilai dapat menambah pasokan listrik berbasis panas bumi sekaligus meningkatkan porsi energi dengan emisi lebih rendah dalam sistem ketenagalistrikan.

Meski demikian, Yoga menekankan pengembangan proyek tetap perlu dilakukan secara bertahap dan berbasis kajian, dengan pengelolaan lingkungan serta kepentingan masyarakat menjadi bagian dari perencanaan proyek.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....