Ahli Panas Bumi ITB: Eksplorasi PLTP Gunung Ungaran Layak Dilanjutkan
- 07 Sep 2026 21:18 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Ahli panas bumi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ali Ashat menilai eksplorasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran di Jawa Tengah layak dilanjutkan karena berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, ia menegaskan kapasitas pembangkit yang diproyeksikan sekitar 55 megawatt (MW) masih harus dibuktikan melalui pengeboran eksplorasi dan kajian teknis.
“Menurut saya, PLTP Gunung Ungaran memiliki sejumlah manfaat strategis sehingga layak untuk dieksplorasi dan dikaji lebih lanjut,” kata Ali dalam keterangannya, Senin, 7 September 2026.
Ali menjelaskan, energi panas bumi memiliki keunggulan sebagai pembangkit beban dasar karena mampu menghasilkan listrik secara stabil selama 24 jam tanpa bergantung pada kondisi cuaca. Karakteristik itu membuatnya dapat melengkapi pembangkit energi terbarukan lain, seperti tenaga surya dan angin, yang produksinya bersifat fluktuatif.
Menurut dia, angka potensi sekitar 55 MW yang tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 belum dapat dipastikan sebelum dilakukan pengeboran eksplorasi. Apabila potensi tersebut terbukti, PLTP Gunung Ungaran dinilai dapat meningkatkan keandalan pasokan listrik, terutama di wilayah Jawa Tengah.
Selain aspek pasokan listrik, Ali menyebut panas bumi merupakan sumber energi domestik yang tidak memerlukan bahan bakar impor sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan rantai pasok energi global.
Dari sisi lingkungan, ia mengatakan emisi gas rumah kaca pembangkit panas bumi umumnya lebih rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. Meski demikian, dampak lingkungan tetap harus dikelola dan efektivitas langkah mitigasi perlu dibuktikan sesuai kondisi spesifik Gunung Ungaran.
“Efektivitas mitigasinya tetap harus dibuktikan berdasarkan kondisi spesifik Gunung Ungaran,” ujarnya.
Ali juga menilai keberadaan kawasan wisata, pertanian, dan Candi Gedong Songo tidak harus dipertentangkan dengan pengembangan panas bumi. Dengan perencanaan tata ruang yang tepat dan perlindungan terhadap kawasan penting, kedua kepentingan tersebut dinilai dapat berjalan berdampingan.
Meski demikian, ia menekankan berbagai kekhawatiran masyarakat mengenai sumber air, lingkungan, keselamatan, lahan, pertanian, pariwisata, hingga kelestarian Candi Gedong Songo harus dijawab secara terbuka oleh pemerintah dan pengembang. Menurutnya, penyediaan data dasar lingkungan, pelibatan ahli independen, sistem pemantauan bersama, serta mekanisme pengaduan yang dipercaya masyarakat menjadi prasyarat penting sebelum proyek melangkah ke tahap berikutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....