Kemenhut Perketat Pengendalian Karhutla di Enam Provinsi

  • 05 Sep 2026 18:12 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Hujan di Kalimantan Barat membantu membasahi lahan dan mengendalikan api. Namun, Kemenhut tetap meningkatkan kewaspadaan karena bara api dan lahan kering masih berpotensi memicu kebakaran kembali.
  • Pemerintah mengerahkan tim gabungan untuk patroli, pemadaman, groundcheck, pendinginan, serta 53 armada udara, termasuk 34 armada untuk water bombing.
  • Hotspot high confidence terbanyak berada di Kalimantan Tengah (252 titik), Sumatera Selatan (165), dan Kalimantan Barat (124).

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus memperketat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas setelah satelit mendeteksi 818 hotspot berkepercayaan tinggi di Indonesia. Meski hujan mulai membantu meredakan kondisi di Kalimantan Barat, pemerintah menegaskan ancaman kebakaran belum berakhir.

“Operasi kini dipusatkan pada wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi, melalui keterangan tertulis, Sabtu, 4 September 2026.

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 per 4 September 2026 pukul 21.15 WIB, sebaran hotspot high confidence di enam provinsi prioritas meliputi Kalimantan Tengah sebanyak 252 titik, Sumatera Selatan 165 titik, Kalimantan Barat 124 titik, Jambi 14 titik, Riau 13 titik, dan Kalimantan Selatan 4 titik.

Ristianto menekankan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis menunjukkan satu kejadian kebakaran. Satu peristiwa kebakaran dapat memunculkan beberapa hotspot sehingga seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan.

“Untuk mempercepat penanganan, pemerintah mengerahkan tim gabungan yang melibatkan TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, hingga dunia usaha. Operasi meliputi patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, serta pemantauan agar api tidak kembali menyala,” ujarnya.

Selain operasi darat, sebanyak 53 armada udara dikerahkan untuk mendukung pengendalian karhutla. Rinciannya, 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 34 armada lainnya menjalankan operasi water bombing di wilayah yang sulit dijangkau.

“Kondisi di Kalimantan Barat menunjukkan perkembangan positif setelah sebagian wilayah diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Curah hujan tersebut membantu membasahi lahan dan mendukung upaya pengendalian kebakaran,” ujarnya.

Meski demikian, Kemenhut mengingatkan bahwa hujan belum menghilangkan risiko karhutla sepenuhnya. Kewaspadaan tetap dipertahankan, terutama di lokasi yang masih kering atau berpotensi menyimpan bara api, sehingga operasi pengendalian akan terus disesuaikan dengan kondisi lapangan dan cuaca.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....