Ada 80,6 Persen Penduduk Terhubung Internet, Nezar: Jangan Hanya Jadi Pasar Digital
- 03 Sep 2026 07:46 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Penetrasi internet Indonesia mencapai 80,6 persen dari total penduduk, memberikan modal besar untuk memperkuat posisi digital negara.
- Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menekankan bahwa Indonesia harus menjadi pemain signifikan dalam ekosistem digital global, bukan sekadar menjadi pasar konsumen produk asing.
- Pertumbuhan pengguna internet yang besar menciptakan kekuatan pasar (market power) yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan ekosistem digital lokal yang kompetitif.
RRI.CO.ID, Jakarta - Sebanyak 80,6 persen penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet, sehingga dinilai menjadi modal besar untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem digital. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan besarnya jumlah pengguna internet tidak seharusnya membuat Indonesia hanya menjadi pasar bagi produk dan platform digital global.
"Dengan jumlah ini kita punya market power luar biasa. Jangan hanya berhenti pada market power. Kita harus bisa menjadi pemain yang signifikan dalam ekosistem digital yang sedang bertumbuh cukup dahsyat," kata Nezar dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis 3 September 2026.
Menurut Nezar, salah satu langkah untuk memperkuat posisi Indonesia di ruang digital adalah meningkatkan pemanfaatan domain .id. Saat ini, PANDI mencatat jumlah domain Indonesia tersebut telah mencapai sekitar 1,5 juta.
Pemerintah, PANDI, dan pelaku industri didorong memperluas penggunaan domain .id, terutama bagi UMKM, institusi pendidikan, dan layanan publik. Pemanfaatan domain tersebut dinilai dapat memperkuat identitas sekaligus membuat layanan dan kegiatan ekonomi lokal lebih mudah dikenali di internet.
"Pemerintah bersama PANDI dan industri perlu memperluas adopsi domain .id bagi UMKM, institusi pendidikan, hingga layanan publik," ujar Nezar.
Selain mendukung aktivitas ekonomi, Nezar menilai domain .id dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan bahasa dan budaya Indonesia di dunia digital. Salah satu penerapannya terlihat dari penggunaan bahasa dan aksara Bali yang kini telah dimungkinkan dalam domain .id.
"Domain .id ini bukan cuma dua huruf, ID. Di belakang itu adalah simbol dan kekayaan culture, knowledge, dan wisdom Nusantara," katanya.
Penggunaan bahasa dan aksara daerah di internet dinilai semakin penting ketika generasi muda memiliki akses yang luas terhadap budaya asing melalui ruang digital. Menurut Nezar, Indonesia memiliki banyak bahasa daerah yang justru belum cukup dikenal oleh generasi mudanya sendiri.
Di tengah perluasan penggunaan domain .id, Nezar turut meminta aspek keamanan dan kepercayaan diperhitungkan sejak tahap perancangan layanan. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi risiko seperti penipuan, konten berbahaya, eksploitasi anak, hingga pengumpulan data yang tidak sesuai ketentuan.
PANDI juga didorong membangun pertukaran data dengan registry, registrar, penyelenggara jasa internet, lembaga keamanan siber, serta tim respons insiden. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk membantu mendeteksi dan menangani penyalahgunaan domain.
Nezar menambahkan, akses terhadap domain .id perlu tetap terbuka, inklusif, interoperable, dan terjangkau bagi masyarakat. Kesiapan universal acceptance juga diperlukan agar nama domain yang menggunakan beragam bahasa dan aksara dapat berfungsi secara luas.
Nezar menyampaikan pandangan tersebut dalam peringatan 20 tahun Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) di Jakarta Selatan, Selasa 1 September 2026.
Memasuki dua dekade pengelolaan domain Indonesia, ia menilai keberhasilan PANDI tidak hanya diukur dari jumlah domain, tetapi juga dari semakin luasnya penggunaan .id dalam aktivitas masyarakat di ruang digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....