Konferensi Pemuda Katolik Dorong Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional

  • 30 Agt 2026 04:10 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat mendorong pertobatan ekologis menjadi bagian integral dari strategi pembangunan nasional Indonesia.
  • Pertobatan ekologis dikaitkan dengan percepatan hilirisasi industri dan penguatan ketahanan energi sebagai pilar pembangunan berkelanjutan.
  • Pernyataan ini disampaikan dalam pembukaan Konferensi Nasional Cendekiawan dan Akademisi Pemuda Katolik 2026 di Jakarta pada 29 Agustus 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, mendorong pertobatan ekologis menjadi bagian dari pembangunan nasional, termasuk dalam percepatan hilirisasi dan penguatan ketahanan energi.

Hal tersebut disampaikan Jumhur saat membuka Konferensi Nasional Cendekiawan dan Akademisi Pemuda Katolik 2026 di Jakarta, pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Jumhur menilai pembangunan ekonomi dan penguatan sektor energi tidak boleh mengabaikan daya dukung lingkungan.

“Kita perlu mendorong pertobatan ekologis secara nasional agar kepedulian terhadap lingkungan menjadi gerakan bersama,” ujar Jumhur dikutip pada Minggu, 30 Agustus 2026.

Konferensi yang mengangkat tema “Sinergi Partisipasi Masyarakat dalam Akselerasi Hilirisasi dan Ketahanan Energi Menuju Indonesia Emas 2045”, mempertemukan pemerintah, akademisi, cendekiawan, dunia usaha, masyarakat sipil, serta kader Pemuda Katolik.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Gusma mengatakan, keberadaan cendekiawan dan ilmuwan diperlukan untuk menjembatani perkembangan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat serta kebijakan pembangunan.

“Pertemuan ini bukan hanya ruang bertukar gagasan, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun kontribusi akademik dan intelektual Katolik bagi agenda energi Indonesia,” kata Gusma.

Ia menilai pembangunan sektor energi perlu disertai tanggung jawab terhadap lingkungan. Karena itu, akademisi didorong menghasilkan riset yang mendukung pembangunan berkelanjutan, mengembangkan teknologi energi bersih dan terbarukan, serta mengkaji dampak ekologis dari kebijakan pemerintah maupun aktivitas industri.

“Cendekiawan dan ilmuwan Katolik harus mampu menjembatani ilmu pengetahuan, etika, dan kepentingan publik,” kata Gusma.

Ia menambahkan, semangat Laudato Si’ menjadi salah satu pijakan moral dalam melihat pembangunan energi. Menurut dia, konsep ekologi integral tersebut memandang persoalan lingkungan berkaitan erat dengan persoalan sosial, ekonomi, budaya, dan kehidupan masyarakat.

“Ilmu pengetahuan harus memberi solusi bagi ketahanan energi, tetapi pada saat yang sama memastikan keadilan sosial, perlindungan lingkungan, dan kepentingan generasi mendatang,” katanya.

Sementara itu, Ketua Steering Committee Konferensi (Ketua Pengurus), Bondan Wicakson mengatakan, pembahasan tidak hanya berfokus pada ketahanan energi, tetapi juga mencakup pengelolaan energi dan pertobatan ekologis, demokratisasi energi, hilirisasi, hingga pembangunan ekosistem energi yang berkelanjutan.

Dari sisi investasi, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasarib yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut mengatakan, investasi menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen, investasi menjadi salah satu instrumen penting. Hilirisasi sumber daya alam juga menjadi salah satu sektor yang memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Todotua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....