Menhut Raja Antoni Kembali Ingatkan El Nino 2026: Lebih Kuat dari 2015

  • 18 Agt 2026 18:58 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memperingatkan El Niño 2026 memiliki kondisi yang sangat kuat dan mirip dengan fenomena El Niño pada tahun 2015.
  • El Niño 2015 merupakan salah satu periode dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sangat tinggi.
  • Pemerintah terus memantau perkembangan kondisi iklim bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengantisipasi dampaknya terhadap potensi karhutla.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, kembali mengingatkan ancaman El Niño yang terjadi tahun ini. Ia menyebut kondisi El Niño 2026 sangat kuat, dan memiliki kemiripan dengan fenomena El Niño pada 2015, yang menjadi salah satu periode dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tinggi.

Hal itu disampaikan Raja Juli, saat memberikan pernyataan pada Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI, Selasa, 18 Agustus 2026. Ia mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan kondisi iklim bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), termasuk untuk mengantisipasi dampaknya terhadap potensi karhutla.

“Per hari ini lebih tinggi dari 2015. Ini data dari BMKG yang kami selalu koordinasi. Sampai pagi ini saya terus berkoordinasi dengan BMKG,” ujar Raja Juli.

Berdasarkan data BMKG, El Niño saat ini berada pada intensitas sangat kuat, dengan indeks Nino 3.4 mencapai +2,19. Kondisi itu menunjukkan suhu muka laut di Samudera Pasifik, lebih hangat dibandingkan kondisi normal, dan berpotensi menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.

Ancaman itu berpotensi semakin meningkat, karena kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi memasuki fase positif, pada September-November 2026. Kondisi itu berpotensi semakin mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Situasi itu menyerupai kondisi El Niño kuat pada 2015.

Fenomena El Niño yang datang lebih awal, membuat kondisi cuaca menjadi lebih panas dan kering, serta berlangsung lebih lama. Situasi itu meningkatkan potensi terjadinya karhutla, dan memperbesar risiko munculnya asap. Citra sebaran asap pada 16 Agustus 2026 pukul 13.00, menunjukkan asap terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan.

Karena itu, Raja Juli mengingatkan masyarakat maupun korporasi, agar tidak melakukan pembakaran lahan, dalam kondisi cuaca yang panas dan kering. Ia juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terhadap sumber api sekecil apa pun, termasuk tidak membuang puntung rokok sembarangan.

“Jangan membakar lahan. Masyarakat dan korporasi harus sama-sama waspada. Bahkan puntung rokok pun jangan sampai dibuang sembarangan, karena dalam kondisi kering seperti ini bisa menjadi sumber api,” kata Raja Antoni.

Ia menegaskan, Kemenhut terus berkoordinasi dengan BMKG, dan melakukan langkah antisipasi untuk menghadapi kondisi itu. Menurutnya, kewaspadaan semua pihak menjadi penting untuk mencegah karhutla, terutama ketika kondisi iklim tahun ini berpotensi lebih kering dan panas, dibandingkan periode normal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....