Kemnaker Siapkan Pelatihan dan Kerja bagi Penyintas Narkoba

  • 12 Agt 2026 15:38 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) RI menyiapkan akses pelatihan dan kesempatan kerja bagi penyintas penyalahgunaan narkoba yang telah menjalani rehabilitasi. Upaya tersebut dilakukan untuk mendukung proses pemulihan agar mereka dapat kembali produktif dan mandiri secara ekonomi.

Dilansir dari kemnaker.go.id, poada Selasa 11 Agustus 2026, langkah tersebut merupakan bagian dari sinergi Kemnaker bersama Badan Narkotika Nasional (BNN), Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan, dalam pelaksanaan rehabilitasi dan pascarehabilitasi. Sinergi itu dituangkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) BNN, Bogor, Jawa Barat, pada Selasa 12 Agustus 2026.

Menteri Ketenagakerjaan RI, Yassierli, mengatakan bahwa kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak harus terbuka bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Menurutnya, penyintas yang telah melewati proses rehabilitasi perlu diberikan ruang untuk mengembangkan kompetensi dan kembali berkontribusi sesuai kemampuan.

“Pemulihan bukan akhir dari proses. Setelah menjalani rehabilitasi, mereka perlu memiliki kesempatan untuk kembali bekerja, berkarya, dan menjalani kehidupan secara mandiri,” ujar Yassierli.

Ia menyebut, Kemnaker akan menyediakan pelatihan berbasis kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja. Pelatihan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi peserta untuk memasuki pasar kerja sesuai kemampuan dan bidang yang diminati.

“Yang kami siapkan bukan hanya pelatihannya, tetapi juga bagaimana setelah memiliki kompetensi mereka bisa mendapatkan akses menuju pekerjaan atau mengembangkan usaha secara mandiri,” katanya.

Bagi peserta yang memilih bekerja di perusahaan, Kemnaker dapat memfasilitasi akses penempatan dengan mempertemukan kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan pemberi kerja. Sementara itu, bagi penyintas yang memilih berwirausaha, pembekalan dapat diarahkan pada keterampilan teknis, pengetahuan kewirausahaan, serta pendampingan sesuai bidang usaha yang dikembangkan.

Yassierli menilai dukungan setelah rehabilitasi penting untuk membantu mereka menata kembali kehidupan, memperoleh penghasilan, dan membangun kepercayaan diri di lingkungan sosial. Ia menekankan keberlanjutan program membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia usaha, lembaga rehabilitasi, dan masyarakat.

“Kesempatan kedua harus kita berikan. Ketika mereka sudah menjalani proses pemulihan, kita perlu memastikan ada jalan bagi mereka untuk kembali produktif dan mandiri,” ujarnya.

(Andini Amelia Wiguna - Mahasiswa Universitas Gunadarma)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....