Ancaman Utama Gajah Sumatra Hilangnya Hutan Bukan Perburuan Gading

  • 12 Agt 2026 10:30 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Ancaman Utama Gajah Sumatra Hilangnya Hutan Bukan Perburuan Gading

RRI.CO.ID, Jakarta - Hilangnya hutan sebagai ruang hidup menjadi ancaman paling sistematis bagi keberlangsungan populasi Gajah Sumatra saat ini. Konflik antara manusia dan gajah yang kian marak terjadi merupakan bukti nyata terputusnya koridor ekologis di bentang alam Sumatra. Menyikapi situasi darurat tersebut, Yayasan KEHATI menyerukan pentingnya menjaga keutuhan hutan ketimbang sekadar penanganan konflik jangka pendek. Imbauan penting ini dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Gajah Sedunia pada Rabu 12 Agustus 2026.

"Gajah tidak pernah memilih hidup berdampingan dengan manusia, mereka hanya terus berjalan mengikuti jalur jelajah yang telah digunakan selama ratusan bahkan ribuan tahun," ujar Direktur Program TFCA Sumatera Yayasan KEHATI, Samedi. Ia menegaskan bahwa ketika jalur alami tersebut berubah fungsi, manusia dan pembangunanlah yang sesungguhnya telah memasuki ruang hidup gajah. Penjelasan tersebut menggambarkan betapa terdesaknya posisi mamalia besar ini di habitat aslinya.

Lebih lanjut, Samedi mengingatkan bahwa masa depan gajah sumatra sangat bergantung pada keberanian semua pihak untuk menjaga hutan tetap utuh. "Ketika hutan hilang, gajah kehilangan rumahnya, dan ketika gajah kehilangan rumahnya, sesungguhnya kita sedang kehilangan salah satu penyangga terpenting bagi keberlanjutan bentang alam Sumatra," tutupnya. Saat ini populasi gajah liar di Sumatra diperkirakan tersisa sekitar 1.200 individu dengan status kritis (critically endangered).

Sebagai spesies payung sekaligus ecosystem engineer, gajah berperan penting menyebarkan biji pohon dan mendukung regenerasi vegetasi hutan tropis. Karena itu, penyelesaian konflik manusia dan gajah tidak bisa hanya mengandalkan patroli, penggiringan, atau pembuatan pagar penghalang semata. Akar masalah berupa fragmentasi hutan dan hilangnya koridor ekologis harus ditangani secara serius dan berkesinambungan.

Komitmen perlindungan tersebut diwujudkan Yayasan KEHATI melalui restorasi habitat, penguatan kapasitas warga, hingga penerapan teknologi pemetaan genetik dan sistem peringatan dini. Upaya ini juga ditunjang dengan pembuatan power fencing, parit penghalang, serta fasilitasi proses penegakan hukum bagi pelanggar. Pendekatan tata kelola lanskap berkelanjutan ini menjadi kunci penting dalam menekan angka konflik di lapangan.

Langkah penyelamatan bentang hutan prioritas ini tidak hanya bertujuan melindungi populasi gajah sumatra dari ancaman kepunahan. Lebih dari itu, keberadaan hutan yang utuh berfungsi sebagai penyangga kehidupan masyarakat, penyedia sumber air, serta penyimpan karbon dalam menghadapi krisis iklim. Sinergi seluruh pihak sangat dibutuhkan agar rumah bagi gajah sumatra tetap terjaga demi masa depan bumi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....