Alexander Sabar Luncurkan Buku "Atas Nama Surga"
- 30 Jul 2026 15:27 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Alexander Sabar Luncurkan Buku "Atas Nama Surga"
RRI.CO.ID, Jakarta – Maraknya penyebaran paham radikalisme, disinformasi, dan manipulasi melalui platform digital menjadi perhatian serius pemerintah. Menjawab tantangan tersebut, Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Alexander Sabar, meluncurkan buku berjudul Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisme, Hingga Manipulasi Kesadaran di Menara Kompas, Jakarta, Rabu 29 Juli 2026.
Peluncuran buku tersebut tidak sekadar menjadi seremoni penerbitan karya, tetapi juga momentum untuk mengajak masyarakat membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi derasnya arus informasi di ruang digital yang kian kompleks.
"Hari ini sebenarnya bukan sekadar merayakan launching buku. Ini adalah upaya membangun kesadaran bersama agar kita tetap waras menghadapi ruang-ruang digital yang begitu luar biasa saat ini," ujar Alexander Sabar dalam sambutannya.
Menurut Alexander, perkembangan teknologi digital membawa manfaat besar bagi kehidupan masyarakat. Namun di sisi lain, algoritma media digital juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan paham radikal, propaganda, hingga membentuk persepsi publik secara masif tanpa disadari.
Melalui buku yang ditulisnya, ia berharap masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana teknologi, algoritma, dan narasi digital dapat memengaruhi pola pikir seseorang, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk ancaman di dunia maya.
"Saya berharap isi buku ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya anak-anak dan remaja, tetapi semua kalangan. Harapannya, kita dapat membangun kesadaran bersama dalam menghadapi fenomena terorisme di ruang digital maupun berbagai dampak negatif perkembangan teknologi," katanya.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengapresiasi hadirnya buku tersebut sebagai refleksi penting mengenai perubahan lanskap komunikasi di era digital.
Menurut Meutya, ancaman di ruang digital tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar atau terang-terangan. Justru, berbagai bentuk manipulasi sering kali diawali oleh narasi yang tampak sederhana dan meyakinkan.
"Semuanya berawal dari sesuatu yang terlihat manis, sebuah ilusi. Tantangannya adalah ketika kekuatan narasi berpadu dengan kekuatan algoritma. Inilah yang menjadi perhatian utama dalam buku ini," ujarnya.
Ia menilai, kombinasi antara narasi yang persuasif dan algoritma digital mampu memengaruhi cara masyarakat berpikir, bahkan berpotensi mengikis nilai-nilai kemanusiaan apabila tidak diimbangi dengan literasi digital yang memadai.
Peluncuran buku kemudian dilanjutkan dengan diskusi publik yang menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, di antaranya Plt. Sekretaris Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ratna Susianawati, kriminolog Kisnu Widagso, serta jurnalis Sari Febriane. Diskusi tersebut membahas tantangan menjaga ruang digital yang sehat di tengah meningkatnya penyebaran radikalisme, hoaks, dan berbagai bentuk manipulasi informasi.
Peluncuran Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisme, Hingga Manipulasi Kesadaran menjadi pengingat bahwa keamanan ruang digital tidak hanya bergantung pada teknologi dan regulasi, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, memverifikasi informasi, serta menjaga kesadaran saat berinteraksi di dunia maya. Dengan meningkatnya literasi digital, masyarakat diharapkan mampu menjadi pengguna internet yang lebih cerdas sekaligus lebih tangguh menghadapi berbagai bentuk manipulasi di era algoritma.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....