Cetak Talenta AI, Kemnaker Gandeng BINUS dan Microsoft
- 28 Jul 2026 19:36 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Kementerian Ketenagakerjaan bermitra dengan GreatNusa yang dikembangkan oleh BINUS University dan Microsoft Indonesia untuk meningkatkan kompetensi AI bagi talenta digital Indonesia.
- Kolaborasi ini bertujuan menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja akibat transformasi digital.
- Kerja sama diperkenalkan melalui AI Career Boost Day 2026 yang menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, pendidikan, dan sektor teknologi untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menggandeng GreatNusa yang diluncurkan BINUS University dan Microsoft Indonesia untuk memperkuat kompetensi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bagi talenta digital Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan mampu menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja akibat transformasi digital.
Kerja sama tersebut diperkenalkan dalam kegiatan AI Career Boost Day 2026 bertema Kolaborasi AI dan Talenta Indonesia: Meningkatkan Kompetensi, Memperluas Kesempatan Kerja di Jakarta, Selasa 28 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor teknologi dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan, penguasaan keterampilan digital, khususnya AI, kini menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Menurutnya, peningkatan kompetensi menjadi kunci agar tenaga kerja Indonesia mampu bersaing di pasar kerja nasional maupun global.
"Transformasi digital tidak bisa kita hindari. Karena itu, kita harus memastikan tenaga kerja Indonesia memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kolaborasi dengan dunia pendidikan dan sektor teknologi menjadi langkah penting untuk mempercepat lahirnya talenta digital yang siap bersaing di tingkat global," ujar Yassierli.
Ia menjelaskan, perkembangan AI justru membuka peluang lahirnya berbagai jenis pekerjaan baru yang membutuhkan keterampilan digital. Mengacu pada Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, sekitar 170 juta pekerjaan baru berbasis teknologi diproyeksikan muncul hingga 2030 meski sebagian pekerjaan saat ini akan terdampak disrupsi.
Yassierli menegaskan, perkembangan AI tidak serta-merta menjadi penyebab meningkatnya pemutusan hubungan kerja. Menurutnya, keputusan perusahaan melakukan PHK dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi bisnis hingga situasi ekonomi, sementara AI hanya menjadi salah satu unsur yang ikut memengaruhi perubahan tersebut.
"Otomasi berbasis AI hanyalah salah satu faktor, bukan penyebab utama," katanya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Kemnaker terus memperkuat peran Balai Latihan Kerja (BLK) dengan menghadirkan pelatihan digital, termasuk bidang AI dan smart operation, baik secara luring maupun daring. Selain itu, Kemnaker juga mengembangkan layanan bursa kerja daring agar pencari kerja lebih mudah terhubung dengan kebutuhan industri.
Yassierli menambahkan, keberhasilan pengembangan talenta digital membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku industri. Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan seperti empati, berpikir kritis, mengambil keputusan, dan bekerja sama tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
"AI harus dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas manusia sehingga mampu mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....