Aktivis 98 Salut Mahasiswa Pilih Dialog dan Debat di DPR
- 20 Jun 2026 10:03 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Sejumlah aktivis Reformasi 1998, memberikan apresiasi kepada elemen mahasiswa, yang memilih menempuh jalur dialog dan perdebatan terbuka, dengan pimpinan DPR RI, untuk menyampaikan berbagai aspirasi kebangsaan. Langkah itu dinilai mencerminkan kedewasaan gerakan mahasiswa, sekaligus menghidupkan kembali tradisi intelektual, yang selama ini menjadi ciri khas perjuangan mahasiswa Indonesia.
Apresiasi itu juga ditujukan kepada pimpinan DPR RI, yang membuka ruang komunikasi secara langsung. Serta menerima audiensi berbagai organisasi kemahasiswaan, di Gedung DPR/MPR RI, Jumat, 19 Juni 2026.
Dalam pertemuan itu, perwakilan mahasiswa menyampaikan sejumlah aspirasi dan kritik, terkait berbagai persoalan nasional, yang kemudian ditindaklanjuti oleh DPR, melalui komunikasi dengan pemerintah. Serta komitmen untuk mengevaluasi sejumlah kebijakan, yang menjadi perhatian publik.
Ketua Umum Pijar Indonesia, Sulaiman Haikal, menilai dialog merupakan instrumen penting dalam demokrasi, yang harus terus dijaga. "Mahasiswa adalah kekuatan moral bangsa. Ketika mereka memilih datang ke DPR untuk berdialog, dan berdebat secara terbuka, itu menunjukkan kematangan politik dan keberanian intelektual," ujarnya.
"Tradisi gerakan mahasiswa tidak hanya dibangun melalui aksi di jalan. Tetapi juga melalui pertarungan gagasan, yang argumentatif dan konstruktif," tambahnya.
Menurut Haikal, pengalaman Reformasi 1998 menunjukkan, perubahan besar tidak hanya lahir dari tekanan publik. Tetapi juga dari kemampuan seluruh elemen bangsa, untuk membuka ruang komunikasi dan mencari solusi bersama.
Ia juga menyatakan, keterbukaan DPR menerima mahasiswa patut diapresiasi, sebagai bagian dari upaya memperkuat demokrasi partisipatif.
"Kita tentu tetap kritis terhadap kebijakan negara, tetapi ruang dialog yang terbuka harus dihargai. Demokrasi yang sehat membutuhkan keberanian untuk mendengar kritik, dan kesediaan untuk menjawabnya secara langsung," katanya.
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Pijar 98, Indri Ariefiandi, menilai langkah pimpinan DPR RI yang menerima mahasiswa, dan langsung menindaklanjuti sejumlah aspirasi, merupakan contoh respons kelembagaan yang positif. "Kami mengapresiasi pimpinan DPR RI, yang tidak menutup pintu dialog," kata Indri.
"Kehadiran mahasiswa di parlemen, menunjukkan demokrasi Indonesia masih menyediakan ruang bagi generasi muda, untuk menyampaikan gagasan, kritik, dan tuntutannya secara langsung," tambahnya.
Indri menegaskan, semangat Reformasi 1998 pada dasarnya, adalah memperluas ruang partisipasi rakyat, dalam proses pengambilan keputusan publik. "Sebagai aktivis 98, kami memahami bahwa kritik adalah bagian dari demokrasi," katanya.
"Namun kritik yang disampaikan melalui dialog terbuka, adu argumentasi, dan pertukaran gagasan, akan menghasilkan solusi yang lebih substansial bagi bangsa. Karena itu, kami salut kepada mahasiswa yang memilih berdiskusi, dan berdebat secara langsung dengan para pemimpin lembaga negara," ucapnya.
Lebih lanjut, Pijar 98 berharap agar komunikasi antara mahasiswa, DPR, dan pemerintah dapat terus berlanjut. Sehingga berbagai aspirasi masyarakat tidak berhenti pada forum audiensi semata, melainkan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan, yang memberikan manfaat nyata bagi rakyat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....