Pertamax Naik, Apakah akan Memicu Tren Turun Kelas BBM?
- 10 Jun 2026 13:36 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter berdasarkan pengumuman Pertamina Patra Niaga.
- YLKI menilai kenaikan berpotensi memicu migrasi konsumen ke Pertalite dan menekan ketersediaan BBM subsidi.
- Ekonom energi menilai kenaikan dipengaruhi harga minyak dunia dan pelemahan rupiah, dengan dampak signifikan pada APBN.
RRI.CO.ID, Jakarta - Harga bahan bakar minyak atau BBM non-subsidi jenis Pertamax resmi naik menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. Kenaikan hampir Rp4.000 per liter ini memicu kekhawatiran akan pergeseran konsumsi ke BBM subsidi serta dampak lanjutan terhadap daya beli dan harga barang kebutuhan masyarakat.

Pertamina Patra Niaga mengumumkan penyesuaian harga BBM non-subsidi mulai 10 Juni 2026, termasuk Pertamax (RON 92) yang naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Perusahaan menyebut kebijakan ini dilakukan melalui evaluasi berkala sesuai formula harga pemerintah dan mempertimbangkan harga minyak dunia serta nilai tukar rupiah.
Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, dalam keterangan tertulis yang dikutip dari Antara News, menyatakan penyesuaian harga dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi. “Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah," kata Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun,” kata Roberth dilansir kantor berita Antara.

Kenaikan harga Pertamax ini tidak hanya berdampak pada biaya energi, tetapi juga berpotensi akan memicu perubahan pola konsumsi di lapangan. Selisih atau disparitas harga yang lebar dengan Pertalite membuat sebagian pengguna mulai mempertimbangkan untuk “turun kelas” ke BBM subsidi, kata Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia atau YLKI.
Managing Sementara, Director Energy Shift Institute atau ESI, Putra Adhiguna, menyebut fenomena ini sangat mungkin terjadi, terutama pada kelompok pengguna yang sensitif terhadap harga. “Akan ada efek peralihan ke Pertalite karena selisih harga makin lebar,” ujarnya dalam wawancara dengan Radio RRI Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026.
Putra menjelaskan, secara struktural konsumsi Pertamax memang didominasi kelompok menengah ke atas, namun kenaikan harga tetap akan memengaruhi keputusan konsumsi harian. Ia menilai pergeseran ini bisa menjadi tekanan tambahan pada distribusi BBM subsidi di SPBU.
Dari sisi perlindungan konsumen, Sekretaris Pengurus Harian YLKI, Rio Priambodo, menyoroti risiko utama dari fenomena ini adalah potensi lonjakan permintaan Pertalite. Ia menilai pemerintah perlu mengantisipasi kesiapan pasokan agar tidak terjadi kelangkaan di lapangan.
“Yang paling kami khawatirkan adalah ketersediaan Pertalite ketika terjadi migrasi besar-besaran,” ujar Rio. Ia menambahkan, perubahan perilaku ini dapat menimbulkan tekanan baru pada sistem distribusi BBM nasional.
Rio juga menilai fenomena turun kelas BBM akan berdampak pada rantai ekonomi yang lebih luas. Menurut dia, ketika konsumsi bergeser ke BBM subsidi, maka beban APBN akan ikut meningkat karena subsidi energi berpotensi naik.
Data dari Antara mencatat Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertalite tetap di harga Rp10.000 per liter. Kesenjangan harga inilah yang dinilai menjadi pemicu utama perubahan perilaku konsumen di SPBU.
Kata Kunci / Tags
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....