Guru Besar UI Dorong Revolusi Teknologi Konstruksi Tahan Gempa
- 07 Mei 2026 18:23 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Pendekatan baru dalam teknologi konstruksi tahan gempa digaungkan Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia Prof. Yuskar Lase saat dikukuhkan sebagai profesor tetap di Kampus Universitas Indonesia, Depok. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa kerusakan akibat gempa bukan semata persoalan alam, melainkan juga hasil dari pilihan desain bangunan.
“Gempa bumi adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari, tetapi dampaknya terhadap bangunan buatan manusia adalah pilihan,” kata Prof. Yuskar, melalui keterangan tertulis, Kamis, 7 Mei 2026.
Dalam pidato ilmiah berjudul Struktur Resilien: Transformasi Teknologi Sliding Base dalam Menyongsong Masa Depan Konstruksi Bangunan Nusantara, Prof. Yuskar memperkenalkan perubahan paradigma konstruksi dari sistem fixed base menuju sliding base. Pendekatan ini memungkinkan bangunan bergerak mengikuti getaran gempa sehingga energi yang diterima struktur dapat direduksi.
Menurutnya, selama ini banyak bangunan di Indonesia masih dirancang dengan filosofi melawan gempa. Padahal, pendekatan tersebut terbukti rentan diterapkan pada bangunan non-engineered dan bangunan bertingkat rendah hingga menengah yang banyak digunakan masyarakat.
“Alih-alih melawan gempa, kita harus belajar berinteraksi dengannya. Sliding base adalah cara pandang baru yang membuat bangunan tidak hanya bertahan, tetapi beradaptasi bahkan menari bersama gempa,” ujarnya.
Prof. Yuskar menilai Indonesia membutuhkan paradigma konstruksi yang lebih adaptif mengingat posisi geografisnya berada di jalur Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Ia menyinggung sederet gempa besar yang pernah mengguncang Indonesia, mulai dari Sumatra tahun 1833, Aceh 2004, hingga Cianjur 2022.
Ia menyebut paradoks pembangunan terjadi ketika kawasan padat dan struktur beton terus dibangun di wilayah patahan aktif tanpa pendekatan desain yang sesuai terhadap risiko kegempaan. “Paradoks pembangunan kita adalah membangun hutan beton di atas patahan aktif. Itulah sebabnya kita harus berani mengubah paradigma konstruksi,” katanya.
Lebih lanjut Prof. Yuskar juga mengangkat rumah adat Nias Omo Hada sebagai contoh nyata kearifan lokal yang terbukti tahan gempa. Rumah tradisional tersebut menggunakan struktur fleksibel dengan tumpuan batu, sambungan semi-rigid, serta sistem pengaku diagonal yang memungkinkan energi gempa terdisipasi secara alami.
Kajian pascagempa Nias 2005 menunjukkan rumah Omo Hada hanya mengalami pergeseran sekitar 10 sentimeter tanpa kerusakan berarti meski diguncang gempa berkekuatan magnitudo 8,6. Temuan itu dinilai membuktikan bahwa konsep bangunan resilien sebenarnya telah lama dimiliki masyarakat Nusantara.
Prinsip tersebut kemudian dikembangkan dalam teknologi modern seperti Double Concave Friction Pendulum (DCFP), yakni sistem yang memungkinkan bangunan bergerak relatif terhadap tanah dan kembali ke posisi semula setelah gempa. Penelitian Prof. Yuskar menunjukkan teknologi tersebut efektif diterapkan pada bangunan pusat data (data center) untuk melindungi struktur sekaligus perangkat bernilai ekonomi tinggi di dalamnya.
Selain aktif meneliti ketahanan struktur terhadap gempa, Prof. Yuskar juga dikenal memiliki sejumlah inovasi di bidang perkuatan sambungan spun pile dan pile cap menggunakan steel jacket. Ia bahkan mengantongi paten terkait metode dan alat perkuatan struktur tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....