PLN EPI Ubah Limbah Pertanian Jadi Sumber Energi Biomassa
- 29 Apr 2026 15:59 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Transformasi desa menjadi pusat produksi energi bersih mulai digarap serius. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menggandeng PT PLN (Persero) untuk mengubah limbah pertanian menjadi sumber energi biomassa bernilai ekonomi, sekaligus memperkuat transisi energi nasional berbasis masyarakat.
Program tersebut diwujudkan melalui kegiatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa pelatihan pengelolaan biomassa yang digelar di Institut Teknologi Bandung pada 28–30 April 2026.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengakselerasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), sekaligus mendukung target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, yang mendorong peningkatan energi terbarukan dan penurunan emisi karbon secara bertahap.
Sebanyak 15 peserta dari kelompok tani, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan Kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKM) binaan PLN EPI dari Lombok Timur, Tasikmalaya, Cilacap, hingga Gunung Kidul mengikuti pelatihan terebut. Mereka dibekali pengetahuan mulai dari identifikasi potensi biomassa, teknologi pengolahan, praktik produksi, hingga penyusunan model bisnis berbasis pasar.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan menegaskan bahwa program tersebut bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi bagian dari strategi besar memastikan keberlanjutan pasokan energi alternatif.
“Melalui program TJSL ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi masuk dalam rantai pasok biomassa. Ini adalah implementasi nyata ESG, khususnya dalam pemberdayaan dan penguatan aspek lingkungan,” ujar Mamit, melalui keterangan tertulis, Rabu, 29 April 2026.
Ia menjelaskan, biomassa memiliki peran penting dalam program co-firing di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), yakni menggantikan sebagian batubara dengan bahan bakar berbasis limbah organik tanpa perlu pembangunan pembangkit baru secara besar-besaran.
Dari sisi PLN Group, sinergi antara induk usaha dan subholding dinilai menjadi kunci dalam membangun ekosistem energi yang inklusif. Senior Manager Komunikasi dan Umum PLN UID Jawa Barat, Krisantus H. Setyawan, menyebut pemanfaatan biomassa membuka peluang ekonomi baru di tingkat lokal.
“Limbah pertanian dan perkebunan yang selama ini terbuang bisa diolah menjadi energi, sehingga menciptakan nilai tambah sekaligus mendorong ekonomi sirkular berbasis masyarakat,” kata Krisantus.
Dari perspektif akademik, Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Zulfiadi, menilai biomassa memiliki keunggulan karena siklus karbonnya lebih cepat dan terkendali dibandingkan energi fosil, sehingga relevan untuk mitigasi perubahan iklim.
Ia juga menekankan bahwa pengembangan biomassa berbasis desa berpotensi mengubah peta ekonomi daerah. “Ke depan, daerah tidak hanya menjadi konsumen energi, tetapi juga produsen energi yang menopang kebutuhan nasional,” ujarnya.
Salah satu peserta, Rismayadi dari Kelompok Tani Jaga Lembur Tani Makmur Tasikmalaya, mengaku optimistis program ini dapat meningkatkan nilai ekonomi limbah pertanian di daerahnya. Menurutnya, biomassa membuka peluang usaha baru yang berkelanjutan bagi masyarakat desa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....