Kemenpora Gelar ToT Master Disabilitas Inklusif Solo
- 23 Apr 2026 13:31 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Pemuda dan Olahraga RI mengambil langkah konkret dalam mewujudkan blueprint pembangunan olahraga nasional yang berkeadilan serta inklusif bagi penyandang disabilitas di seluruh Indonesia. Komitmen tersebut diimplementasikan melalui penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Master dan Manajemen Talenta Olahraga Disabilitas yang berlangsung pada 21–23 April 2026 di Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Dikutip dari kemenpora.go.id, acara yang menghadirkan 30 atlet elite internasional sebagai pionir penggerak olahraga disabilitas ini secara resmi dibuka melalui platform daring oleh Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Sri Wahyuni. Pembukaan tersebut juga turut dihadiri Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus Dadi Surjadi, Tenaga Ahli Menpora Heru Komarudin, serta Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta Rini Kusumandari.
Dukungan penuh dari pemangku kepentingan olahraga disabilitas tampak jelas dengan kehadiran Sekretaris Jenderal NPC Indonesia Ukun Rakendi, perwakilan NPCI Jawa Tengah Suwarno, serta Ketua Umum NPCI Kota Surakarta Bangun Sugitu dalam acara tersebut. Selain itu, akademisi dari Tim Pakar Universitas Sebelas Maret yaitu Prof. Dr. Sapta Kunta Purnama, M.Pd. juga turut hadir memberikan dukungan terhadap pengembangan talenta olahraga disabilitas.
Dalam sambutan pembukanya, Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Sri Wahyuni menegaskan bahwa pengembangan olahraga disabilitas bukan sekadar program kerja rutin, melainkan merupakan amanat konstitusi yang harus dijalankan secara konsisten. Ia menekankan bahwa negara memiliki tanggung jawab penuh untuk menciptakan kesetaraan dan memastikan pemenuhan hak berolahraga bagi seluruh warga tanpa adanya praktik diskriminasi dalam bentuk apa pun.
"Peserta ToT ini dipersiapkan untuk menjadi agen perubahan, pelatih, pendamping, sekaligus motivator bagi masyarakat disabilitas di daerahnya masing-masing. Keberhasilan program ini akan diukur dari seberapa jauh ilmu yang didapat mampu dipraktikkan untuk mencetak atlet tangguh, menemukan talenta baru, dan membangun masyarakat yang inklusif," ujar Deputi Sri Wahyuni.
Senada dengan pernyataan tersebut, Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus, Dadi Surjadi dalam laporannya menjelaskan bahwa penyelenggaraan ToT perdana pada tahun ini secara khusus dirancang untuk menyasar para pelatih serta seluruh stakeholder terkait guna memperkuat ekosistem olahraga disabilitas nasional.
“Didukung penuh oleh kolaborasi akademisi UNS dan praktisi NPC Indonesia, para peserta yang telah lulus seleksi komprehensif ini digembleng agar siap menjadi motor penggerak olahraga disabilitas di akar rumput," ujarnya.
Memasuki sesi penyampaian materi perdana, Tenaga Ahli Menpora, Heru Komarudin, secara komprehensif mengupas desain Program BERDAYA atau ToT Pelatih Disabilitas sebagai strategi penguatan kapasitas pelatih di level akar rumput. Dalam paparannya, Heru menyoroti fakta penting bahwa tingkat partisipasi olahraga penyandang disabilitas di Indonesia saat ini masih tergolong sangat rendah karena baru menyentuh angka 11,6 persen dari total populasi difabel.
Untuk mendongkrak angka partisipasi tersebut, Kemenpora menetapkan target strategis dengan mencetak 300 pelatih disabilitas bersertifikat yang akan menjadi ujung tombak pengembangan olahraga inklusif di seluruh daerah. Heru Komarudin menjelaskan bahwa para pelatih tersebut nantinya akan diterjunkan kembali ke wilayah masing-masing dengan misi melatih minimal 10 orang di komunitasnya, sehingga melalui efek ganda ini diharapkan mampu menjangkau lebih dari 6.000 penerima manfaat sekaligus menciptakan ekosistem olahraga yang benar-benar inklusif.
Rangkaian kegiatan pada hari pertama kemudian ditutup dengan paparan teknis yang disampaikan oleh Dr. dr. Retno Setianing, Sp.KFR (K) selaku perwakilan dari NPC Indonesia. Dalam sesi tersebut, Ia membawakan materi bertajuk "Klasifikasi dan Penanganan Disabilitas" untuk memperkuat pemahaman peserta terkait aspek medis dan teknis dalam pembinaan atlet difabel.
Retno Setianing mengedukasi para peserta bahwa sistem klasifikasi merupakan 'jantung' dari olahraga Paralimpiade, karena berperan penting dalam menjamin terciptanya keadilan dan kesetaraan dalam setiap kompetisi. Ia menegaskan bahwa melalui tahapan evaluasi klasifikasi medis dan teknis yang dilakukan secara ketat, kemenangan seorang atlet nantinya dipastikan murni berasal dari kemampuan olahraga, kekuatan, serta strategi di lapangan, bukan sekadar ditentukan oleh derajat keterbatasan fisik yang dimiliki.
(Annisa Dwi Ramadhani – Universitas Ibnu Chaldun)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....