FTUI Bangun Huntara Berbasis Kearifan Lokal Pascabanjir Aceh
- 17 Mar 2026 12:20 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) bersama Ikatan Alumni (ILUNI) FTUI memulai langkah nyata dalam membantu pemulihan pascabencana banjir bandang di Desa Gewat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Melalui pembangunan hunian sementara (huntara), FTUI tidak hanya menghadirkan tempat tinggal darurat, tetapi juga membawa pendekatan berbasis keilmuan dan kearifan lokal untuk mempercepat kebangkitan warga.
Program pembangunan huntara tersebut resmi dimulai pada 7 Maret 2026, sekitar tiga bulan setelah banjir bandang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Meski waktu telah berlalu, kondisi Desa Gewat masih memprihatinkan, dengan sebagian warga masih kesulitan mendapatkan tempat tinggal yang layak.
Ketua ILUNI FTUI Farrizky Astrawinata bersama Ketua Satuan Tugas Kebencanaan FTUI Ardiyansyah, turun langsung meninjau lokasi terdampak. Dalam kunjungan tersebut, tim juga menyalurkan bantuan paket sembako kepada masyarakat melalui program UI Peduli sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan dasar warga.
Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia Prof. Kemas Ridwan Kurniawan menegaskan bahwa pembangunan huntara ini merupakan bentuk tanggung jawab perguruan tinggi dalam memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Ia menyatakan bahwa FTUI berkomitmen menghadirkan solusi berbasis keilmuan yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh warga terdampak.
“Huntara ini diharapkan menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi warga, sekaligus membantu mereka menata kembali kehidupan setelah bencana,” ujar Prof. Kemas di Jakarta, Selasa, 17 Maret 2026.
Menurutnya, huntara yang dibangun tidak sekadar hunian darurat biasa. Dengan ukuran 4 x 7,2 meter, desain yang digunakan merupakan pengembangan model Antara Versi 3, yang sebelumnya telah diterapkan dalam penanganan bencana di Lombok, Palu, dan Cianjur.
Desain tersebut mengadopsi konsep rumah adat Gayo, Uma Pitu Ruang, dengan bentuk rumah panggung berbahan kayu yang kokoh dan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Pendekatan ini tidak hanya memperhatikan aspek teknis, tetapi juga menghargai budaya lokal masyarakat.
Selain itu, struktur bangunan dirancang modular sehingga proses pembangunan bisa dilakukan lebih cepat dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat secara gotong royong. Konsep rumah panggung juga memberikan perlindungan dari kelembapan tanah serta meningkatkan sirkulasi udara, sehingga hunian tetap nyaman ditempati.
“Huntara ini mengusung konsep hunian berkembang, yakni hunian yang dapat diperluas secara bertahap sesuai kebutuhan penghuni di masa depan. Dengan konsep ini, huntara tidak hanya menjadi solusi sementara, tetapi juga dapat menjadi fondasi menuju rumah permanen seiring pemulihan ekonomi warga,” ujarnya.
Proses pembangunan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan warga Desa Gewat, didampingi secara teknis oleh Institut Kemandirian Dompet Dhuafa. Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah juga memberikan dukungan penuh agar pembangunan dapat berjalan lancar meskipun akses wilayah masih terbatas.
Reje Desa Gewat Sandi Suardi menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan. Ia menilai kehadiran huntara ini memberikan harapan baru bagi masyarakat untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih tenang. “Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan kepedulian FTUI serta semua pihak. Hunian ini sangat berarti bagi warga kami untuk bangkit dan membangun kembali masa depan,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan, pembangunan huntara di Desa Gewat menjadi simbol bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali fisik, tetapi juga menumbuhkan harapan dan ketahanan masyarakat dari bawah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....