PLN dan BIB Perkuat Akselerasi Energi Baru Terbarukan

  • 11 Feb 2026 21:59 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Transformasi menuju energi bersih di sektor pertambangan kian nyata. PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah bersama PT Borneo Indobara (BIB) menandatangani perjanjian jual beli Renewable Energy Certificate (REC) sebanyak 23.040 unit, setara dengan 40.000 MVA listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

Penandatanganan tersebut menjadi langkah strategis memperkuat praktik pertambangan ramah lingkungan atau green mining, sekaligus mendukung penurunan emisi gas rumah kaca di sektor industri.

Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto menegaskan kerja sama tersebut merupakan bentuk dukungan PLN terhadap peningkatan daya saing industri nasional melalui pemanfaatan energi bersih.

“PLN berkomitmen mendukung transisi energi dengan menyediakan layanan listrik hijau 100 persen berbasis EBT melalui mekanisme REC. Ini bukan sekadar transaksi, tetapi bagian dari transformasi industri menuju praktik berkelanjutan,” ujar Adi melalui keterangan tertulis, Rabu, 11 Februari 2026.

Menurut Adi, REC merupakan sertifikat digital yang merepresentasikan atribut lingkungan dari setiap satu megawatt hour listrik yang dihasilkan dari sumber terbarukan, seperti surya, air, dan panas bumi. Melalui skema tersebut, perusahaan dapat memastikan konsumsi listriknya memiliki kontribusi energi hijau tanpa harus membangun pembangkit sendiri. 

“Sistem pencatatan elektronik yang menyertai REC juga menjamin transparansi dan akuntabilitas penggunaan energi terbarukan,” ujarnya.

Chief Operating Officer BIB Raden Utoro menyampaikan apresiasi atas dukungan PLN dalam merealisasikan program Green Mining di lingkungan operasional perusahaan. Menurutnya, keandalan pasokan listrik menjadi faktor krusial bagi kelangsungan aktivitas tambang.

“Pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan sangat penting karena gangguan sekecil apa pun bisa berdampak pada operasional. Dukungan PLN memberikan kepastian bagi pengembangan elektrifikasi di area tambang kami,” katanya.

BIB menargetkan elektrifikasi 25 persen armada alat berat pada 2026 dan meningkat menjadi 75 persen pada 2028, dengan ambisi mencapai nol emisi pada 2028–2029. Kebutuhan daya puncak perusahaan diproyeksikan mencapai 200–240 MVA pada 2028, sehingga penguatan infrastruktur kelistrikan, termasuk transmisi dan gardu induk, menjadi bagian penting dari rencana ekspansi.

Secara nasional, permintaan REC menunjukkan tren pertumbuhan signifikan. Sepanjang 2024, jumlah pengguna REC meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, dengan konsumsi energi hijau mencapai lebih dari 10,9 terawatt hour (TWh). Hal ini mencerminkan meningkatnya kesadaran pelaku industri dalam menekan jejak karbon dan memenuhi standar keberlanjutan global.

General Manager PLN UID Kalselteng Iwan Soelistijono menyebut transaksi 23.040 unit REC ini sebagai capaian terbesar di wilayah Kalimantan. Ia optimistis kolaborasi tersebut dapat menjadi acuan bagi sektor pertambangan lain dalam mempercepat adopsi energi bersih.

Sinergi antara PLN dan BIB menunjukkan bahwa transisi menuju net zero emissions dapat diwujudkan melalui langkah konkret dan kolaboratif. Di tengah tantangan investasi dan pengembangan infrastruktur, kemitraan strategis ini menjadi bukti bahwa transformasi energi bersih di Indonesia terus bergerak maju, sejalan dengan agenda keberlanjutan nasional dan global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....