Kemenperin Kolaborasi dengan Startup, Perluas Akses Bagi Disabilitas

  • 04 Feb 2026 11:43 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan industri manufaktur harus berjalan seiring dengan prinsip keadilan sosial dan inklusivitas. Menurut dia, sektor manufaktur memiliki peran strategis dalam menyerap tenaga kerja nasional secara berkelanjutan.

“Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian berkomitmen memastikan agar pembangunan industri juga membuka ruang partisipasi yang setara bagi penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat berkontribusi secara produktif dan mandiri dalam ekosistem industri nasional,” kata Agus Gumiwang dalam keterangannya, Senin 2 Februari 2026.

Sejalan dengan komitmen tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) berkolaborasi dengan startup Top Loker menyelenggarakan kegiatan “Pengembangan Inklusi Sektor Manufaktur untuk Disabilitas”. Kegiatan tersebut digelar di SLB Negeri Semarang pada 28 Januari 2026.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita mengatakan kegiatan ini menjadi bentuk kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha untuk memperluas akses kerja inklusif. Program ini dirancang sebagai wadah bagi penyandang disabilitas agar dapat terhubung langsung dengan sektor industri strategis.

“Kami bersama startup Top Loker menginisiasi kegiatan ini sebagai wadah yang membuka kesempatan dan peluang bagi teman-teman disabilitas untuk dapat berkarya dan berpartisipasi di sektor industri,” ujar Reni dalam siaran pers yang diterima RRI Jakarta, Rabu 4 Januari 2026.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, hingga Agustus 2025 jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur mencapai 20,26 juta orang atau sekitar 13,83 persen dari total tenaga kerja nasional. Dengan pendekatan inklusif, sektor ini diharapkan dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja penyandang disabilitas.

Reni menjelaskan, akses penyandang disabilitas ke sektor manufaktur masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan informasi kerja hingga lingkungan kerja yang belum sepenuhnya inklusif. Kesenjangan kompetensi dan minimnya jejaring kemitraan formal juga menjadi hambatan utama.

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan serapan tenaga kerja penyandang disabilitas di sektor industri sekaligus membuka akses kerja sama antara Sekolah Luar Biasa dengan industri manufaktur,” ujar Reni.

Sebanyak 45 siswa disabilitas kelas XII dari delapan kabupaten dan kota di Jawa Tengah mengikuti kegiatan ini dan bertemu langsung dengan 24 perusahaan manufaktur. Perusahaan tersebut berasal dari sektor industri agro, elektronik, tekstil dan produk tekstil, serta industri aneka.

Menurut Reni, sektor manufaktur membutuhkan sikap kerja yang tekun, teliti, konsisten, dan loyal, yang kerap menjadi keunggulan penyandang disabilitas. “Perusahaan manufaktur akan berdiskusi langsung dan menjalin komunikasi berkelanjutan dengan kelompok disabilitas yang didampingi oleh SLB Negeri Semarang dan Top Loker,” katanya.

Chief Executive Officer Top Loker, Josep Teguh Santoso menyatakan platform yang dikembangkan perusahaannya dirancang untuk menjembatani penyandang disabilitas dengan peluang kerja di sektor manufaktur. Program ini juga didukung oleh SLB Negeri Semarang, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, serta Universitas Stekom.

“Kami ingin semakin banyak pelaku industri yang peduli dan membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk bekerja dan berkembang,” kata Josep yang juga menjabat sebagai rektor Universitas Stekom Semarang. (Annisa Dwi Ramadhani - Universitas Ibnu Chaldun Jakarta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....