PYC Talks Bahas Pendanaan Iklim untuk Transisi Energi

  • 27 Jul 2025 09:23 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) berkolaborasi dengan University of Waterloo dalam FINCAPES Project menggelar kegiatan PYC Talks bertema “Masa Depan Pendanaan Iklim untuk Transisi Energi di Indonesia”, di Jakarta, pada Sabtu (26/7/2025). Tema tersebut bertujuan untuk berbagi pengetahuan, serta memperdalam pemahaman mengenai strategi pembiayaan iklim yang disesuaikan dengan konteks transisi energi hijau Indonesia.

Anggota Dewan Pembina PYC Luky A. Yusgiantoro, dalam sambutannya menyatakan bahwa pembiayaan iklim adalah komponen kunci dalam mempercepat transisi energi nasional, dan forum diskusi yang menjadi ruang penting untuk membangun sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, pelaku industri, dan komunitas akademik.

“Kami mendukung pengembangan kebijakan energi berkelanjutan yang inklusif dan berbasis inovasi, serta sejalan dengan tujuan pembangunan nasional. Melalui talkshow ini, PYC berharap dapat meningkatkan pemahaman tentang berbagai strategi pendanaan iklim yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan transisi energi hijau di Indonesia,” kata Luky A. Yusgiantoro.

Sementara itu, Field Director FINCAPES Project Michael Lynch juga menekankan pentingnya langkah kolaborasi untuk mendukung dalam mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, termasuk salah satunya diskusi yang diinisiasi oleh PYC ini.

Senior Economist Bank Indonesia Arnita Rishanty menyampaikan peran Bank Indonesia dalam mendorong transisi energi yang inklusif, dengan mendorong perbankan memperbanyak kredit hijau dan menggalakkan sustainability reporting untuk calon-calon kreditur.

Sementara itu, Kepala Sekretariat Just Energy Transition Partnership (JETP) Indonesia Paul Butarbutar menyampaikan perkembangan JETP pasca mundurnya AS serta strategi ke depan untuk pendanaan transisi energi berkeadilan.

Executive Director METI Yudha Permana Jayadikarta kemudian memaparkan peran strategis pelaku industri energi terbarukan dalam mengakses dan mengakselerasi pendanaan iklim untuk transisi energi di Indonesia melalui skema KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha).

Acara ditutup oleh Ketua Dewan Pengawas PYC Inka B. Yusgiantoro yang menjelaskan bahwa pendanaan iklim masih memiliki tantangan, namun solusi dapat diciptakan dari kolaborasi lintas sektor yang selaras dengan dinamika global dan didukung oleh kebijakan yang memfasilitasi partisipasi semua pihak.

Sekadar informasi, Indonesia merupakan negara penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar kelima di dunia. Oleh sebab itu, kini Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisinya sebesar 43,2% dari skenario business-as-usual (BAU) pada tahun 2030, serta menargetkan Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat, sebagaimana tercantum dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC).

Untuk mencapai target tersebut, Indonesia membutuhkan sekitar USD 322,86 miliar untuk aksi mitigasi, termasuk dana yang dialokasikan untuk mempercepat transisi energi hijau. Pembiayaan iklim pun memainkan peran penting dalam membuka akses permodalan untuk proyek energi bersih, menjembatani kesenjangan pendanaan, serta mengurangi risiko investasi pada infrastruktur rendah karbon.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....