Perempuan Pemimpin Rumah Tangga Hadapi Tantangan di Kota

  • 25 Okt 2025 09:52 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Perempuan yang memimpin rumah tangga di kota besar menghadapi tantangan kompleks, mulai dari ekonomi hingga peran sosial. Hal itu terungkap dalam diskusi bertema “Pemberdayaan Pekerja Perempuan di Jakarta” yang digelar Jakarta Islamic Centre atai JIC bekerja sama dengan Institut Pariwisata Trisakti di Jakarta Utara, Jumat 24 Oktober 2025.

Kepala Divisi Pendidikan dan Pengajaran JIC, Rasyid, menegaskan bahwa perempuan memiliki peluang yang sama dengan laki-laki untuk berkiprah di ruang publik, termasuk dalam dunia kerja dan kepemimpinan. “Saat ini banyak pemimpin perempuan di berbagai instansi, mulai dari Kasudin Tata Air hingga Kepala Bappeda. Tidak ada lagi perbedaan peran, karena keduanya bisa menjadi mitra untuk kemaslahatan bersama,” ujarnya.

Jakarta Islamic Centre dan Trisakti bahas pemberdayaan pekerja perempuan di Jakarta, Jumat (24/10/2025). (Foto: RRI/Ilyas)

Rasyid juga menekankan bahwa Islam tidak membatasi perempuan untuk berperan aktif, selama tetap menjaga keseimbangan dalam keluarga. Menurutnya, rumah tangga yang kuat lahir dari kolaborasi antara suami dan istri yang saling menghormati dan mendukung.

Sementara itu, Dr. Novita Widyastuti, Wakil Rektor III Institut Pariwisata Trisakti, memaparkan bahwa kontribusi perempuan terhadap ekonomi Jakarta semakin besar. “Data BPS menunjukkan sekitar 47 persen angkatan kerja di Jakarta adalah perempuan. Ini berarti hampir separuh kekuatan ekonomi kota digerakkan oleh tenaga kerja perempuan,” kata Novita.

Novita menambahkan, berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, lebih dari 35 persen rumah tangga di wilayah perkotaan kini dipimpin oleh perempuan. Kondisi itu seringkali dipicu oleh faktor ekonomi, perceraian, atau kehilangan pasangan.

Menurutnya, perempuan kepala keluarga kerap menghadapi tekanan ganda, yakni mencari nafkah sekaligus mengurus keluarga. Karena itu, dukungan sosial, kebijakan ramah perempuan, dan pelatihan keterampilan menjadi kunci agar mereka tetap berdaya. “Islam mendorong perempuan untuk berpendidikan dan berdaya guna, sehingga mampu menjaga nilai moral dan keseimbangan peran dalam keluarga,” ujarnya.

Diskusi yang diikuti sekitar 100 peserta ini juga menghadirkan pembicara lain, seperti Nurbaeti dari Institut Pariwisata Trisakti dan Wulansari dari Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak DKI Jakarta. Acara ditutup dengan pelatihan pembuatan kue oleh Chef Chairul Salim sebagai bagian dari pelatihan keterampilan bagi peserta.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....