Mengenal Es Kado, Jajanan Klasik yang Masih Eksis

  • 30 Jun 2026 17:28 WIB
  •  Jakarta

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

RRI. CO. ID, JAKARTA – Di tengah maraknya berbagai jenis es krim modern dengan kemasan mewah, sebuah jajanan tradisional bernama Es Kado masih terus bertahan di sudut-sudut kota, khususnya di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Dengan bungkus kertas kado yang khas dan warna-warni, es ini tidak hanya menawarkan rasa manis, tetapi juga nostalgia bagi para penikmatnya.

Pak Pur (50), salah satu penjual yang masih setia menjajakan Es Kado adalah seorang pria asal Klaten yang meneruskan usaha almarhum ayahnya. Ia bercerita bahwa Es Kado terbuat dari campuran bahan-bahan sederhana namun alami, seperti santan, tepung, gula, dan perasa buah asli, salah satunya rasa durian yang menjadi favorit.

Proses Pembuatan yang Unik

Berbeda dengan es krim pada umumnya, proses pembuatan Es Kado memerlukan ketelatenan. Mirip dengan "Es Goyang", adonan es dimasukkan ke dalam cetakan logam panjang, lalu diguncang-guncang di dalam wadah berisi es batu dan garam selama kurang lebih 10 menit hingga membeku.

“Panjangnya sekitar 22 cm, ada cetakannya sendiri. Dulu waktu zaman saya kecil, harganya masih Rp100, sekarang sudah Rp2.000 sampai Rp5.000, tergantung pembeli mau beli berapa,” ujarnya saat ditemui RRI Jakarta di sela-sela aktivitas berdagang. Selasa 30 Juni 2026.

Warisan dari Sang Ayah

Bagi sang penjual, Es Kado bukan sekadar mata pencaharian, melainkan warisan berharga. Ia mengaku mulai berjualan Es Kado atas inspirasi dari sang ayah yang sudah lebih dulu menekuni profesi ini hingga akhir hayatnya. Meskipun ia berasal dari Klaten, Jawa Tengah, ia menyebut bahwa di Jakarta sendiri kini hanya tersisa sedikit penjual Es Kado, sekitar 5 hingga 6 orang saja yang masih aktif di wilayah Jakarta Utara.

Tantangan di Tengah Kenaikan Harga

Menjalankan usaha tradisional di masa sekarang tentu bukan tanpa hambatan. Kenaikan harga bahan pokok, seperti santan dan bahan lainnya, cukup berpengaruh pada modal usahanya. Namun, ia memilih untuk tetap bertahan dan mensyukuri setiap rupiah yang didapat.

Setiap hari, ia mulai berkeliling sejak pukul 10.30 WIB hingga menjelang waktu Maghrib. Dengan pendapatan kotor rata-rata Rp200.000 per hari, ia harus cukup memutar otak untuk memenuhi kebutuhan istri dan modal dagang selanjutnya.

“Namanya jualan, kadang cukup, kadang ya disyukuri saja. Harapannya ya kalau ada modal atau bantuan, ingin punya motor agar tidak terlalu capek berkeliling. Tapi kalau pakai motor juga agak susah masuk ke gang-gang kecil, belum lagi harga bensin yang naik,” tuturnya dengan nada penuh harap.

Kisah penjual Es Kado ini menjadi pengingat bahwa di balik jajanan sederhana berharga ribuan rupiah, terdapat perjuangan besar untuk menjaga tradisi kuliner Nusantara agar tidak hilang ditelan zaman.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....