Dari Ranah Minang ke Jepang, Chef Joko Priono Menjaga Warisan Kuliner Nusantara

  • 04 Jun 2026 00:35 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Jangan menangis jika tak bersepatu, sedangkan orang berkaki tidak menangis
  • Kuliner tradisional Indonesia tetap lestari di tengah derasnya arus westernisasi

RRI.CO.ID, Jakarta - Chef Joko Priono membuktikan bahwa ketekunan dan kecintaan terhadap dunia kuliner mampu membuka jalan menuju panggung internasional. Pria kelahiran Sungai Penuh, tahun 1988, yang berdomisili di Kota Padang, Sumatera Barat, bersuku Malayu ini berhasil lolos seleksi dan diterima bekerja di Hotel Hilton Niseko Village, Hokkaido, Jepang. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi putra Minang yang telah mengabdikan dirinya di dunia kuliner sejak tahun 2006.

Joko merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Ia lahir dari pasangan A. Somad (alm.) dan Nurhayati, seorang ibu rumah tangga yang selalu memberikan dukungan penuh terhadap perjalanan kariernya. Lulusan SMA Negeri 6 Padang ini mengaku sejak awal memang memilih dunia kuliner sebagai jalan hidupnya dan terus menekuni profesi tersebut hingga saat ini.

(Foto : Joko Priono)

Selain berkiprah sebagai chef, sejak tahun 2025 Joko juga aktif sebagai konsultan kafe, restoran, hingga berbagai program pengembangan usaha kuliner. Pengalaman panjang yang dimilikinya membuat dirinya dipercaya membantu berbagai pelaku usaha dalam mengembangkan konsep bisnis dan kualitas produk makanan yang mereka sajikan kepada masyarakat. Joko menjelaskan cerita menarik perihal namanya, melalui acara Apresiasi Budaya Minangkabau, Minang Bakaba Lamak di Danga, di RRI Pro 4 Jakarta, melalui sambungan telp, Rabu, 8 Juni 2026.

"Bapak saya orang purwokerto ibu saya asli Maninjau Sumatra Barat, saya anak bungsu ,karna kakak saya nama nya nama padang semua jadi pas saya lahir bapak saya ingin ada anak nya pakai nama jawa.

Maka nya di berilah saya nama joko priono",Ujar Joko

Baca Juga : M. Husen, Pemuda Inspiratif Penggerak Ekowisata dan Pendidikan di Ranah Minang

Menurut Joko, perkembangan kuliner Indonesia saat ini berlangsung sangat pesat. Namun di balik kemajuan tersebut, ia melihat adanya tantangan besar, yakni semakin berkurangnya perhatian terhadap kuliner tradisional. Ia menilai tren makanan modern seperti western food, Japanese food, dan Korean food memang terus berkembang, tetapi kekayaan kuliner Nusantara tidak boleh ditinggalkan. Baginya, makanan tradisional merupakan bagian dari identitas budaya dan kearifan lokal yang harus dijaga keberlangsungannya.

(Foto : Joko Priono)

Nilai kehidupan yang selalu dipegang Joko berasal dari petuah orang tuanya, yaitu, “Jangan menangis jika tak bersepatu, sedangkan orang berkaki tidak menangis.” Pesan sederhana tersebut mengajarkannya untuk selalu bersabar, bersyukur, dan tetap berjuang dalam kondisi apa pun. Prinsip itulah yang menjadi bekal dalam meniti karier hingga mampu meraih kesempatan bekerja di luar negeri.

Ke depan, Joko berharap kuliner tradisional Indonesia tetap lestari di tengah derasnya arus westernisasi. Ia juga mengajak generasi muda Minang untuk menjaga marwah Ranah Minang dengan berpegang pada falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.” Sementara bagi seluruh pemuda Indonesia, ia berpesan agar tidak hanya menunggu peluang kerja datang, melainkan berani menciptakan lapangan kerja dan terus berkarya demi kemajuan bangsa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....