Kilau Kenangan Angkat Nostalgia Jajanan Sekolah
- 27 Apr 2026 08:27 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Program Kilau Kenangan yang tayang pada Minggu, 26 April 2026 pukul 21.00–24.00 WIB menghadirkan tema “Jajanan Legendaris dari Dulu sampai Sekarang”. Siaran ini dipandu oleh Mika Kartika dan dapat didengarkan melalui aplikasi RRI Digital serta direlay di RRI Pro 1 Jakarta 91,2 FM.
Sejak awal siaran, penyiar mengajak pendengar untuk berbagi cerita mengenai jajanan favorit yang biasa dibeli saat masa sekolah. Interaksi berlangsung melalui pesan WhatsApp 0812-5000-1933 yang masuk selama program berlangsung, disertai permintaan lagu-lagu kenangan era 60-an hingga 90-an.
Kerak Telor menjadi salah satu jajanan yang dibahas. Makanan khas Betawi ini dikenal telah ada sejak masa Batavia dan dibuat dari bahan sederhana seperti beras ketan, telur, dan ebi. Selain menjadi bagian dari kuliner tradisional, kerak telor juga kerap dijumpai dalam berbagai acara budaya seperti Pekan Raya Jakarta. Kerak Telor merepresentasikan nilai ketahanan dan kreativitas masyarakat urban. Lahir dari keterbatasan bahan, jajanan ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu bergantung pada kemewahan, melainkan pada kemampuan mengolah sumber daya yang ada. Dalam konteks sosial, kerak telor menjadi simbol daya adaptasi masyarakat Betawi dalam menghadapi dinamika kota sejak masa Batavia.
Selain itu, Es Dawet turut diangkat dalam siaran. Minuman berbahan dasar tepung beras, santan, dan gula aren ini telah lama dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa dan sering disajikan dalam berbagai acara adat. Es Dawet mencerminkan nilai keseimbangan dan keteduhan hidup. minuman ini mengandung simbol harapan akan kehidupan yang “adem”, tenang, stabil, dan harmonis. Dalam perspektif budaya Jawa, es dawet tidak sekadar konsumsi fisik, tetapi juga representasi doa sosial yang diwariskan secara turun-temurun.
Mika Kartika juga membahas jajanan tradisional Kue Cubit yang populer di kalangan anak sekolah. Kue Cubit menggambarkan nilai adaptasi dan transformasi budaya populer. Awalnya sederhana dan identik dengan lingkungan sekolah, kue ini kini hadir dalam berbagai varian modern. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak bersifat statis, melainkan mampu bernegosiasi dengan selera generasi baru tanpa kehilangan identitas dasarnya.

Selanjutnya, Klepon diperkenalkan sebagai salah satu kue tradisional berbahan tepung ketan dengan isian gula merah. Kue ini dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia dan menjadi bagian dari jajanan pasar. Klepon mengandung nilai filosofis tentang proses kehidupan. Lapisan luar yang sederhana menyembunyikan isi manis di dalamnya, menjadi metafora bahwa kesabaran dan ketekunan dalam menghadapi kesulitan akan berujung pada hasil yang membahagiakan. Nilai ini selaras dengan pandangan hidup masyarakat yang menempatkan proses sebagai bagian penting dari pencapaian.
Onde-Onde juga dibahas dalam program tersebut. Kue berbentuk bulat dengan taburan wijen ini memiliki isian kacang hijau. Onde-Onde merefleksikan nilai akulturasi budaya. Berasal dari pengaruh Tiongkok dan berkembang di Indonesia sejak masa kerajaan, onde-onde menunjukkan bagaimana interaksi antarbudaya dapat menghasilkan bentuk baru yang tetap relevan. Keberadaannya menjadi bukti bahwa identitas kuliner Indonesia terbentuk melalui proses pertukaran budaya yang panjang.
Sementara itu, Kue Putu dikenalkan sebagai jajanan tradisional yang identik dengan suara uap dari alat kukusnya. Kue Putu memuat nilai kedekatan sosial dan memori kolektif. Suara khas uap dari gerobak penjualnya menjadi penanda ruang dan waktu yang spesifik, biasanya sore hingga malam hari. Kehadirannya tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai penanda ritme kehidupan masyarakat, terutama di lingkungan permukiman.
Di akhir segmen, Nagasari turut menjadi pembahasan. Kue berbahan dasar tepung beras dan pisang ini umum dijumpai di pasar tradisional maupun acara keluarga. Nagasari mencerminkan nilai kesederhanaan yang sarat makna. Dengan bahan yang mudah ditemukan, kue ini tetap mampu menghadirkan cita rasa khas yang bertahan lintas generasi. Dalam konteks budaya, nagasari juga sering hadir dalam acara keluarga atau tradisi, memperkuat fungsinya sebagai simbol kebersamaan dan kontinuitas nilai.
Selama tiga jam siaran, program Kilau Kenangan tidak hanya memutar lagu-lagu lawas, tetapi juga menampilkan berbagai cerita pendengar tentang pengalaman mereka dengan jajanan masa lalu. Interaksi tersebut menjadi bagian utama dalam membangun suasana siaran yang interaktif dan partisipatif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....