Nastar: Dari Kue Kolonial Jadi Ikon Wajib Lebaran

  • 17 Mar 2026 22:30 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Nastar berasal dari adaptasi kue Eropa yang dibawa bangsa kolonial.
  • Nama nastar berasal dari bahasa Belanda “ananas” dan “taart”.
  • Kini nastar berkembang dengan berbagai bentuk dan isian modern.

RRI.CO.ID, Jakarta – Kue nastar menjadi salah satu kue favorit yang selalu hadir di meja saat perayaan Idul Fitri . Kue kering berisi selai nanas ini dikenal memiliki rasa manis, lembut, dan sedikit asam yang menggugah selera.

Sejarah nastar ternyata tidak sepenuhnya berasal dari Indonesia, melainkan hasil akulturasi budaya sejak abad ke-16. Data dari blog kuliner Taste of Nusa yang kami akses pada Rabu, 18 Maret 2026 menyebutkan, kue ini terinspirasi dari pai Eropa yang dibawa oleh bangsa Portugis ke Nusantara.

Pada masa itu, buah-buahan seperti stroberi dan apel sulit ditemukan di wilayah tropis, sehingga nanas dipilih sebagai pengganti isian. Nanas sendiri merupakan buah asal Amerika Selatan yang diperkenalkan ke Asia oleh pedagang Portugis.

Ketika Belanda datang dan menguasai Indonesia, kue berbasis nanas ini kemudian berkembang menjadi “ananas taart”. Nama tersebut berasal dari bahasa Belanda, yakni “ananas” yang berarti nanas dan “taart” yang berarti kue.

Seiring waktu, ukuran kue diperkecil agar lebih tahan lama di iklim tropis dan praktis disajikan. Dari sinilah muncul bentuk nastar kecil yang kini dikenal luas di Indonesia.

Menurut pembuat kue Lebaran, Retno, kualitas bahan sangat menentukan hasil akhir nastar. “Kue nastar yang lembut pembuatannya menggunakan mentega Wisman yang bisa menghasilkan rasa gurih dan wangi,” ujarnya sambil menyusun kue pesanan.

Ia menambahkan, teknik pencampuran dan suhu pemanggangan juga menentukan agar kue tidak retak. “Campur mentega dan gula halus hingga lembut, gunakan kuning telur yang cukup, dan panggang dengan suhu rendah,” ucapnya.

Kini nastar tidak lagi terbatas pada bentuk bulat dengan isian nanas. Variasi modern seperti nastar gulung, berbentuk daun, hingga isian cokelat, abon, dan selai buah lain mulai bermunculan mengikuti selera pasar.

Harga nastar di pasaran pun beragam, mulai dari Rp80 ribu hingga Rp150 ribu per toples tergantung kualitas bahan dan ukuran. Nastar premium buatan Retno dijual sekitar Rp120 ribu dan banyak diminati menjelang Lebaran.

Bagi sebagian masyarakat, nastar bukan sekadar kue, melainkan simbol kebersamaan. “Rasanya gak afdol kalau tidak ada kue nastar,” ujar Rina, salah satu penggemar, yang selalu menantikan kehadirannya saat berkumpul bersama keluarga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....