Bubur Ase dan Akulturasi di-Meja Makan Orang Betawi
- 15 Jan 2026 16:08 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Tidak ada habisnya bila membicarakan kuliner Betawi, dari kerak telor hingga bir pletok yang akrab di lidah warga Jakarta. Namun, di antara ragam itu, orang Betawi menyimpan bubur khas yang kini kian jarang dijumpai, yaitu Bubur Ase.
Di Jalan Kebon Kacang 9, Tanah Abang, Jakarta Pusat, tidak jauh dari Bundaran Hotel Indonesia, berdiri warung milik M. Lutfi Fani atau akrab disapa Bang Lopi. Puluhan tahun ia menjual bubur ase.
“Ase itu singkatan dari asinan semur. Jadi, beda sama bubur ayam biasa yang pakai kari. Ini bubur yang temennya asinan sama kuah semur,” kata Bang Lopi saat ditemui RRI Jakarta di warungnya, Selasa 13 Januari 2026.
Gerobak warung Bubur Ase Bang Lopi di Jalan Kebon Kacang 9, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Selasa, 13 Januari 2026. (Foto: RRI/Setyo Agung)Asinan sayuran terdiri dari sawi, timun dan tauge, yang menghadirkan rasa asam-segar saat sampai di lidah. Aroma rempah yang melimpah tercium dari kuah semur dengan isian daging dan tahu.
Menurut Bang Lopi, isinya dapat bervariasi dengan tambahan ikan teri di sejumlah komunitas Betawi, sementara asinannya kerap memuat lobak dan lokio. Sepiring bubur ase belum lengkap jika tidak ada kerupuk merah, emping, kacang dan bawang goreng.
“Resep turun-temurun dari emak dan mpok saya, tiga generasi. Dulu mpok saya yang masak, sekarang istri saya. Pesannya cuma satu: jangan takut sama bumbu,” ujar Bang Lopi saat mengenang masa lalunya.
Sepanci semur daging dan tahu dengan kuah encer, sebagai pelengkap Bubur Ase, Selasa 13 Januari 2026. (Foto: RRI/Setyo Agung)Pelanggannya datang dari berbagai latar belakang. Di antara mereka ada remaja tanggung yang tertarik karena ulasan naravlog makanan, tapi ada pula yang setia makan bubur ase sebab rasanya pas di lidah.
“Saya orang Betawi asli. Makan Bubur Ase ini dari kecil. Enak karena ada asinannya dan berani di bumbu, khas lidah orang (Betawi) Tanah Abang banget,” kata Helmi, seorang pelanggan yang ditemui RRI Jakarta di warung Bang Lopi, Selasa 13 Januari 2026.
RRI Jakarta berusaha menelusuri sejarah Bubur Ase ke kantor Lembaga Kebudayaan Betawi, di Setia Budi, Jakarta Selatan. Sekretaris Jenderal lembaga ini, Imbong Hasbullah menjelaskan posisi kuliner ini dalam akulturasi budaya masyarakat Betawi.
Sepiring Bubur Ase berisi bubur polos dingin yang dipadukan dengan asinan sayur dan semur daging bercita rasa asam-segar dan manis-gurih. Di beberapa tempat, bubur ase ditambahkan ikan teri, asinan lobak dan lokio. Belum lengkap bila tidak ditambahkan kerupuk merah, emping, kacang goreng, dan bawang goreng. (Foto: RRI/Setyo Agung)“Orang Betawi itu kreatif. Bubur itu sendiri budayanya Tionghoa, sedangkan Semur itu dari Belanda ("Smoor"). Di wilayah Timur mungkin jarang kelihatan, tapi di Betawi Tengah seperti Tanah Abang, ini sangat populer, dan sekarang di daerah Cipulir juga ada,” kata Imbong di kantornya, Selasa 13 Januari 2026.
Menurutnya, perpaduan tersebut bukan sekadar eksperimen rasa. Proses itu mencerminkan cara masyarakat Betawi mengolah pengaruh luar menjadi identitas lokal yang baru.
Akulturasi juga terlihat pada ragam kuliner lain, mulai dari nasi kebuli yang berakar pada budaya Arab hingga berbagai kue basah yang dipengaruhi tradisi Tionghoa. Semua diterima, diadaptasi, lalu dianggap sebagai bagian dari keseharian orang Betawi sejak dulu.
Sekretaris Jenderal Lembaga Kebudayaan Betawi Imbong Hasbullah saat ditemui di kantornya, di Setia Budi, Jakarta Selatan, pada Selasa 13 Januari 2025. (Foto: RRI/Setyo Agung)“Masyarakat sering tidak sadar kalau dari pagi mereka sudah makan makanan Betawi, seperti Nasi Uduk, Nasi Ulam, Asinan. Ada juga Pindang Bandeng, Kue Talam, Dodol, hingga Setup. Makanan Betawi itu kaya akan akulturasi budaya, ada pengaruh Tionghoa, Belanda, Arab, dan Eropa,” ujar Imbong.
Sejak awal, tanah Betawi telah bersifat global. Interaksi budaya yang intens membuat kuliner Betawi lentur dan mampu bertahan dalam perubahan zaman. Saat ini, Bubur Ase telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia di Kementerian Kebudayaan, berjejer dengan 94 produk budaya lainnya dari Provinsi DKI Jakarta.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....