Melestarikan Kuliner Kaili sebagai Identitas Budaya

  • 27 Nov 2025 19:43 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Program Suara Budaya Nusantara dalam siaran nasional RRI mempersembahkan tema “Mengenal dan Melestarikan Makanan Tradisional Khas Kaili” yang menghubungkan RRI Perompak Palu dan RRI Jakarta. Acara ini dipandu oleh Ni Ketut Warni dari RRI Palu dan Mariana Suhendi dari RRI Jakarta, menghadirkan Ibu Nurhidayah, pelaku UMKM kuliner tradisional Kaili, sebagai narasumber. Dialog ini mengupas ragam kuliner yang masih menjadi kebanggaan masyarakat Kaili hingga saat ini.

Dalam interaksinya, Ibu Nurhidayah menjelaskan bahwa makanan tradisional Kaili telah diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat. “Makanan khas Kaili ini memang sudah lama ya, dari orang tua sampai anak-anak sekarang ini,” tuturnya, Kamis, 27/11/2025. Beberapa kuliner yang masih populer antara lain sayur kelor (uta kelo), talebe yang merupakan campuran nasi jagung dan nasi putih, palumara, uta dada, hingga duo sole, yaitu olahan ikan kecil berbumbu cabai, tomat, dan bawang yang digoreng lalu dimasak kembali.

Program ini juga diramaikan oleh partisipasi pendengar dari berbagai daerah, seperti Palu, Maluku Utara, Gorontalo, dan Jambi, yang turut memberikan pertanyaan seputar kuliner Kaili. Salah satu pendengar menanyakan tentang makanan binte, dan narasumber meluruskan bahwa binte bukanlah masakan tradisional Kaili, meskipun tetap ditemukan dan dikonsumsi di Palu. “Binte itu bukan masakan tradisional Kaili, cuma memang masih ada di Palu,” ujar Ibu Nurhidayah.

Selain membahas citarasa dan ragam makanan, dialog ini turut menyinggung tradisi dan mitos yang melekat pada kuliner Kaili. Salah satu mitos yang masih dipercaya masyarakat adalah larangan memasak sayur kelor ketika ada anggota keluarga meninggal dunia. “Mitos itu memang ada dari orang-orang tua terdahulu, takutnya nanti ada yang meninggal berturut-turut,” jelasnya.

Melalui siaran ini, RRI mengajak masyarakat untuk lebih mengenal, menghargai, dan melestarikan kuliner tradisional sebagai bagian dari identitas budaya. Ibu Nurhidayah berharap generasi muda dapat meneruskan kecintaan terhadap makanan lokal dan mendukung UMKM sebagai garda terdepan pelestarian warisan kuliner Kaili. Program ditutup dengan seruan untuk terus menjaga kekayaan kuliner daerah sebagai bagian dari kekuatan budaya nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....