Santan Gak Cuma Gurih, Tapi Juga Penuh Gizi
- 30 Okt 2025 14:58 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Santan selama ini identik dengan kolesterol tinggi dan makanan berlemak. Tapi tahukah anda, cairan kental dari kelapa ini menyimpan potensi nutrisi yang menyehatkan bila dikonsumsi dengan bijak.
Dalam budaya kuliner Indonesia, santan adalah bahan utama yang sulit dipisahkan dari hidangan seperti rendang, opor, hingga sayur lodeh. Rasanya gurih, teksturnya lembut, dan aromanya khas. Namun di balik kenikmatan itu, muncul pertanyaan lama: apakah santan menyehatkan atau justru berbahaya bagi tubuh?

Ilustrasi. Santan kelapa menyimpan potensi nutrisi penting seperti zat besi dan vitamin C, namun tetap perlu dikonsumsi secara bijak untuk menjaga kesehatan jantung. (Foto: Quang Nguyen Vinh/pexels)
Menurut laman Healthline, santan mengandung beragam nutrisi penting seperti vitamin C, zat besi, magnesium, dan mangan yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga imunitas dan metabolisme. “Satu cangkir santan dapat menyumbang 22 persen kebutuhan harian zat besi dan 110 persen mangan,” tulis laman itu dalam artikelnya Coconut Milk: Health Benefits and Uses. Nutrisi tersebut membantu pembentukan energi dan memperkuat jaringan tubuh.
Santan dihasilkan dari daging kelapa tua yang diparut dan diperas bersama air. Kandungan lemaknya memang tinggi, sekitar 93 persen kalori santan berasal dari lemak, termasuk asam lemak jenuh jenis medium-chain triglycerides (MCTs). Jenis lemak ini, menurut Healthline, cenderung lebih cepat diubah menjadi energi oleh hati dibanding disimpan sebagai lemak tubuh. Dalam jumlah moderat, MCTs dapat meningkatkan metabolisme dan memberi rasa kenyang lebih lama.
Meski begitu, konsumsi santan tetap perlu dibatasi. Lemak jenuh dalam santan bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) bila dikonsumsi berlebihan. Namun studi yang sama menunjukkan bahwa peningkatan LDL diimbangi dengan kenaikan kolesterol baik (HDL). Dengan kata lain, efeknya bergantung pada pola makan keseluruhan dan frekuensi konsumsi. “Secara umum, keseimbangan antara HDL dan LDL tetap terjaga bila santan dikonsumsi dalam porsi wajar,” tulis Healthline.
Sementara itu, penelitian dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipublikasikan dalam Indonesian Food and Nutrition Progress Journal menemukan bahwa santan memiliki aktivitas antioksidan dan antiradang alami. Kandungan fenolik dalam santan berpotensi menurunkan risiko stres oksidatif yang memicu berbagai penyakit degeneratif.
“Ekstrak santan menunjukkan kemampuan menangkal radikal bebas yang cukup signifikan, sehingga bisa berperan sebagai antioksidan alami,” tulis tim peneliti UGM dalam publikasi mereka.
Dalam konteks masyarakat Indonesia, konsumsi santan sering kali tidak berdiri sendiri. Santan biasanya dipadukan dengan bahan makanan lain yang tinggi kalori, seperti daging atau minyak, sehingga total asupan lemak meningkat. Ini yang sering menimbulkan salah kaprah bahwa santan menjadi biang penyakit jantung. Padahal, masalah utamanya bukan pada santan, melainkan pada pola makan yang tidak seimbang.
Selain menyehatkan, santan juga berpotensi menjadi alternatif bagi mereka yang alergi terhadap susu sapi. Kandungan lemaknya membuat tekstur makanan lebih lembut tanpa perlu bahan hewani. Di banyak negara, seperti Thailand dan India, santan digunakan sebagai pengganti susu dalam minuman dan saus. “Coconut milk has recently become very popular as a tasty alternative to cow’s milk,” tulis Healthline.
Meski aman bagi kebanyakan orang, beberapa kelompok dengan intoleransi terhadap FODMAP disarankan membatasi konsumsi santan hingga setengah cangkir sekali minum untuk mencegah gangguan pencernaan. Selain itu, masyarakat perlu memperhatikan kemasan produk santan kaleng yang mengandung bisphenol A (BPA). Zat kimia ini bisa berpindah ke makanan dan berisiko mengganggu hormon bila dikonsumsi jangka panjang. Healthline menyarankan memilih produk santan dalam kemasan bebas BPA atau membuat santan segar sendiri di rumah untuk hasil lebih aman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....