Pasar Rakyat Pangan Lokal, Etalase Kekayaan Pangan Indonesia
- 16 Okt 2025 15:53 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Pelaku UMKM, kelompok tani, dan masyarakat adat dari berbagai daerah di Indonesia memadati halaman Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. Mereka menampilkan aneka pangan tradisional dan inovasi kuliner berbasis bahan lokal dalam Pasar Rakyat Pangan Lokal, bagian dari rangkaian Kenduri Budaya Pangan Lokal Nusantara.
Acara yang berlangsung hingga Minggu (19/10/2025) ini menjadi etalase kekayaan pangan Nusantara dari Sabang hingga Merauke. Pengunjung dapat menjumpai produk hasil bumi, olahan tradisional, hingga inovasi pangan baru yang dikembangkan komunitas masyarakat adat, petani, dan pelaku usaha sosial.
Stan yang tampil berasal dari berbagai daerah dan jejaring penggerak pangan lokal seperti Parara, Sapo Dite, Kampung Adat Wogo, Kelompok Tani Kampung Bayam Madani, Teras Mitra, serta Koalisi Sistem Pangan Lestari. Ada pula UMKM binaan Badan Pangan Nasional seperti Risiris, Kukimo, dan Pawon Narasa, LPTP Surakarta (Kampung Krowot), Lestari Mandiri Boyolali, Sanggar Rojolele, Argo Inten Bukit Menoreh, hingga UMKM binaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Fisnack) dan Sagolicious.
Setiap stan menampilkan bahan pangan khas daerah masing-masing dengan pengolahan yang beragam. Dari pangan laut, rempah, hingga olahan singkong, semuanya dirancang untuk memperlihatkan bahwa pangan lokal dapat dikembangkan secara modern tanpa kehilangan identitasnya.
Salah satu peserta, Endah dari Kampung Adat Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat menampilkan beragam olahan singkong yang menjadi ciri khas kampungnya. Ia menjelaskan, semua bagian tanaman singkong dimanfaatkan hingga tidak ada yang terbuang.

Beberapa produk olahan singkong dari Kampung Adat Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat yang dijual di Pasar Rakyat Pangan Lokal, Kenduri Budaya Pangan Lokal Nusantara, di Musuem Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. (Foto: RRI/Setyo Agung)
“Kebetulan kampung adat ini lebih dikenal dari pangannya, di mana kita mengonsumsi singkong [sebagai sumber karbohidrat utama, red.], semua olahan dari singkong semua. Semua bagian dari singkong tidak terbuang, daunnya sebagai lalapan, terus sebagai sayur juga, batangnya kita jadikan bibit lag, singkongnya sendiri, bahkan kulitnya sudah jelas jadi produk-produk ini,” kata Endah pada Rabu (15/10/2025).
Dari dapur Kampung Adat Cireundeu, lahir produk seperti rasi (beras singkong), egg roll singkong, hingga dendeng kulit singkong. Semua dibuat tanpa tepung terigu, hanya menggunakan hasil olahan singkong.
“Ini juga bisa dijadikan egg roll atau semprong, tapi kita jadikan egg roll, ini modifikasi, terus ini pun bukan dari terigu tapi dari tepung rasi tersebut,” ujar Endah sambil menunjukkan tepung rasi yang sudah dikemas.
Sementara itu, Neneng Kurniawati dari Kelompok Tani Kampung Bayam Madani, Jakarta Utara, datang membawa hasil panen dari kebun kota mereka yang berdampingan dengan Jakarta International Stadium. Di lahan terbatas, mereka menanam sayur organik seperti bayam, kangkung, dan kacang panjang.
“Walaupun lahannya kecil, kita manfaatkan bisa banyak yang kita tanam, kayak tomat, cabai, kacang panjang, kangkung, bayam, dan sebagainya. Kami ingin pemerintah terus mendukung supaya pertanian ini jangan dihilangkan, karena sumber penghasilan kami itu dari bertani,” kata Neneng pada Rabu (16/10/2025).
Dari hasil panen, warga Kampung Bayam mengolah sebagian menjadi keripik bayam dan camilan sehat lainnya. Bagi mereka, pertanian kota bukan hanya sumber ekonomi, tapi cara mempertahankan ruang hidup di kota Jakarta.
“Sudah lama (jadi petani, dari) orang tua saya sudah jadi petani, tahun 1970an di sini. Kalau kangkung dan bayam itu gak lama panennya, 24 hari sudah bisa panen dan bisa menghasilkan satu-dua kwintal,” ujar Neneng.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....