Saat Kuliner Gorontalo Mulai Terlupakan
- 24 Jun 2025 11:33 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Makanan tradisional Gorontalo kini semakin sulit ditemukan, bahkan beberapa di antaranya hampir punah dari peredaran pasar maupun dapur rumah tangga. Dalam Segmen Suara Budaya Nusantara yang disiarkan di 92.8 PRO4 Jakarta dan Gorontalo, membahas bagaimana pergeseran selera dan gaya hidup masyarakat menjadi penyebab utama langkanya pangan lokal khas Gorontalo. Fenomena ini menjadi perhatian para ahli, termasuk Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes, seorang ahli gizi yang menyoroti pentingnya pelestarian kuliner tradisional dari sisi gizi dan budaya.
“Banyak makanan khas Gorontalo seperti ilabulo dan binthe biluhuta yang mulai tergeser oleh makanan cepat saji. Padahal, secara nilai gizi dan kearifan lokal, makanan ini sangat berharga,” ujar Arifasno saat wawancara, Senin (23/6/2025). Ia menambahkan bahwa makanan tradisional tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mengandung makna budaya dan kesehatan yang kuat. Apa yang masyarakat konsumsi sejatinya adalah bagian dari identitas, sehingga pelestariannya penting untuk generasi mendatang.
Menurut Dr. Arifasno, pelestarian ini seharusnya melibatkan semua pihak, dari pemerintah daerah, pelaku UMKM, hingga keluarga. “Kita tidak bisa hanya bergantung pada festival atau promosi sesaat. Harus ada edukasi dan gerakan yang masif agar anak-anak muda mengenal dan bangga dengan makanan daerahnya,” jelasnya. Ia juga menyarankan agar makanan tradisional bisa lebih dikreasikan agar sesuai dengan selera modern, tanpa menghilangkan esensinya.
Salah satunya karena proses memasaknya yang dianggap rumit dan tidak praktis. Dalam era serba cepat, masyarakat cenderung memilih makanan yang instan. Namun demikian, Dr. Arifasno menekankan bahwa makanan tradisional justru memberi waktu untuk berkumpul dan memasak bersama sebagai aktivitas keluarga. “Di balik proses yang panjang, ada nilai gotong royong dan kebersamaan yang juga ikut memupuk budaya,” katanya.
Harapannya, dengan adanya kesadaran kolektif, makanan lokal bisa kembali hidup dalam keseharian masyarakat. Dialog seperti yang disiarkan RRI ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali kecintaan pada kuliner tradisional. “Kita tidak boleh membiarkan warisan rasa ini lenyap, karena makanan adalah identitas bangsa,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....