Mantan Artis Terseret Love Scam, Mengapa Korban Mudah Percaya?
- 03 Jun 2026 12:30 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta — Terungkapnya dugaan keterlibatan mantan artis berinisial F dalam jaringan penipuan daring internasional membuka kembali perhatian publik terhadap fenomena love scam. Modus ini bukan sekadar penipuan keuangan biasa, melainkan kejahatan yang memanfaatkan kebutuhan emosional korban untuk membangun kepercayaan sebelum menguras harta mereka kata pengamat.
Fenomena love scam bukan hal baru. Namun, kemunculan kasus yang melibatkan mantan figur publik memperlihatkan bagaimana pelaku terus mengembangkan cara untuk membangun kredibilitas di mata korban.

Ilustrasi penipu onlinep (Foto: Freepik)
Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah Kombes Himawan Susanto Saragih menjelaskan mantan artis tersebut berperan sebagai model dalam panggilan video. Kehadirannya digunakan untuk meyakinkan korban yang masih ragu terhadap tawaran investasi yang diajukan jaringan penipu.
"Model yang kami amankan bertugas melayani panggilan video sesuai kebutuhan dan keinginan korban dalam operasinya," ujar Himawan dalam konferensi pers yang diterima RRI, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurut Himawan, model tidak bertugas mencari korban. Peran itu dilakukan tim pemasaran yang lebih dahulu membangun komunikasi dan kedekatan emosional dengan target.
Ketika korban mulai percaya namun belum sepenuhnya yakin, model kemudian ditampilkan untuk memperkuat kepercayaan. "Tujuannya agar korban segera melakukan investasi sesuai penawaran yang sebelumnya telah diberikan oleh jaringan tersebut," ucapnya.

Pendiri dan Ketua Asosiasi Psikologi Positif Indonesia, Nurlaila Effendy. (Foto: Dok. Pribadi)
Ketika Cinta Menjadi Alat Manipulasi
Pendiri dan Ketua Asosiasi Psikologi Positif Indonesia, Nurlaila Effendy, menjelaskan love scam pada dasarnya merupakan bentuk manipulasi yang menggunakan pendekatan romantis sebagai sarana memperoleh keuntungan.
"Kalau dari love dan scam berarti memang ada modus yang akan mendapat keuntungan dengan cara-cara pendekatan love. Jadi berbeda dengan relasi yang sehat karena tujuan akhirnya mendapatkan keuntungan, terutama yang terkait material," ujar Nurlaila dalam wawancara di Radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.
Menurut Nurlaila, keberhasilan pelaku bukan semata-mata karena kecanggihan teknologi. Faktor psikologis korban justru menjadi pintu masuk utama.
Ia menjelaskan laki-laki memiliki kecenderungan tidak terbiasa mengungkapkan emosi secara terbuka. Ketika ada seseorang yang bersedia mendengarkan dan memahami mereka, rasa nyaman mudah terbentuk.
"Begitu mendapatkan seseorang yang memahami dia, dia merasa nyaman dan trust itu terbangun," kata Nurlaila.
Selain itu, ada dorongan untuk melindungi dan memberi kepada orang yang dianggap dekat. Karakteristik tersebut kerap dimanfaatkan pelaku untuk meminta bantuan keuangan secara bertahap.
Nurlaila menilai kondisi kesepian, konflik hubungan, kesibukan pekerjaan, hingga keberhasilan finansial dapat meningkatkan kerentanan seseorang menjadi korban.
"Kalau kebetulan dia lagi kesepian, lagi putus, atau sedang ada konflik dengan pasangan, itu memungkinkan love scam lebih mudah masuk," ujarnya.
Mengapa Korban Tetap Percaya?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa korban tetap percaya meski mulai melihat tanda-tanda kejanggalan.
Menurut Nurlaila, hubungan emosional yang telah terbentuk membuat korban sulit menerima kenyataan bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
"Ada curiga, tetapi dia sendiri meragukan penilaiannya. Karena kenyamanan yang dia dapat selama ini tidak dia dapatkan di luar hubungan itu," ucap Nurlaila.
Kondisi tersebut membuat korban cenderung mengabaikan sinyal bahaya. Mereka lebih memilih mempertahankan hubungan yang memberikan rasa nyaman dibanding mempertanyakan motif di baliknya.
Baru ketika pola komunikasi berubah dan permintaan materi semakin sering muncul, sebagian korban mulai menyadari adanya kejanggalan.
"Kok sekarang lebih banyak ke masalah materi, baru dia mulai menyadari," ujar Nurlaila.
Kejahatan yang Mendunia
Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Situs resmi Federal Trade Commission, lembaga pemerintah Amerika Serikat yang bertugas melindungi konsumen dari praktik penipuan, persaingan usaha tidak sehat, dan kejahatan yang merugikan masyarakat mencatat pelaku romance scam umumnya membuat profil palsu di aplikasi kencan atau media sosial, membangun hubungan intensif, lalu meminta uang dengan berbagai alasan darurat, mulai dari biaya perjalanan, operasi medis, hingga investasi.
FTC menegaskan satu aturan utama untuk menghindari kerugian. Jangan pernah mengirim uang atau hadiah kepada seseorang yang belum pernah ditemui secara langsung.
Sementara itu, INTERPOL dalam laporan tren kejahatan global yang dirilis Juni 2025 menyebut pusat-pusat penipuan daring berbasis eksploitasi manusia kini telah berkembang menjadi ancaman global.
Data INTERPOL menunjukkan korban perdagangan manusia dari 66 negara telah direkrut ke pusat-pusat penipuan daring. Sebagian besar beroperasi di Asia Tenggara sebelum menyebar ke kawasan lain seperti Afrika Barat, Timur Tengah, dan Amerika Tengah.
INTERPOL juga menemukan penggunaan teknologi kecerdasan buatan semakin meningkat dalam berbagai skema penipuan, termasuk romance scam. Teknologi deepfake digunakan untuk menciptakan foto, video, hingga identitas digital yang tampak meyakinkan.
Siapa yang Rentan Menjadi Korban?
Penelitian akademik yang dipublikasikan jurnal Interacting with Computers menunjukkan siapa pun berpotensi menjadi korban. Namun sejumlah kelompok memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi.
Kajian tersebut menemukan individu yang aktif mencari pasangan secara daring memiliki risiko lebih besar bertemu pelaku penipuan. Faktor lain yang meningkatkan kerentanan adalah keinginan menjalin hubungan jarak jauh atau dengan pasangan dari luar negeri.
Penelitian itu juga mencatat korban sering mengalami dampak ganda, yakni kerugian finansial sekaligus trauma emosional. Banyak korban merasakan malu, marah, terkejut, hingga menyalahkan diri sendiri setelah mengetahui mereka telah ditipu.
Nurlaila menyebut kelompok usia 30 hingga 50 tahun termasuk yang sering menjadi target karena umumnya sudah mapan secara finansial dan menghadapi kompleksitas kehidupan yang lebih tinggi.
"Usia 30 sampai 50 tahun yang paling menjadi target untuk love scam. Karena secara finansial mapan dan secara emosi juga lebih banyak kompleksitas di sana," katanya.
Mengenali Tanda Bahaya
Nurlaila mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran diri saat membangun hubungan secara daring.
Menurut dia, kemampuan mengenali kebutuhan emosional pribadi menjadi benteng pertama agar tidak mudah dimanipulasi.
"Kalau kita mengenali diri kita, ketika merasa ini sudah mengganggu stabilitas emosi, kita bisa pelan-pelan melepaskan," ujarnya.
Ia juga menyarankan masyarakat yang serius menjalin hubungan agar segera bertemu secara langsung setelah beberapa kali berkomunikasi.
"Kalau memang ingin serius, sebaiknya setelah beberapa kali kontak sudah ketemu langsung untuk bisa menilai," kata Nurlaila.
Kata Kunci / Tags
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....