Program SIGAP RSUD Cengkareng Pangkas Keterlambatan Penanganan Ibu dan Bayi

  • 06 Okt 2026 02:19 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Rumah Sakit Unit Daerah (RSUD) Cengkareng memperkuat Program SIGAP untuk mempercepat penanganan kegawatdaruratan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, dan bayi baru lahir.

Program ini dirancang untuk memangkas waktu yang berpotensi menghambat ibu dan bayi mendapatkan pertolongan medis, dengan menyoroti konsep 3 Terlambat dan 4 Terlalu dalam penanganan kesehatan ibu dan bayi.

Direktur RSUD Cengkareng, Lysbeth Regina Pandjaitan menjelaskan, 3 Terlambat itu merupakan terlambat mengenali tanda bahaya, terlambat menempuh perjalanan menuju fasilitas kesehatan, serta terlambat mendapatkan penanganan.

Sementara 4 Terlalu mencakup kehamilan pada usia terlalu muda atau terlalu tua, jarak kehamilan yang terlalu dekat, serta jumlah anak yang terlalu banyak.

“Dasar itulah 3 Terlambat dan 4 Terlalu ini kita meluncurkan program SIGAP,” ujar Lysbeth di RSUD Cengkareng, pada Senin, 5 Oktober 2026.

Untuk mempercepat proses rujukan, Lysbeth mengatakan pihaknya juga membangun jejaring bersama sejumlah fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri hingga rumah sakit jejaring.

RSUD Cengkareng, kata dia, sebagai rumah sakit Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) akan menyiagakan dokter di lokasi untuk menangani kondisi darurat ibu dan bayi.

“Jadi kita rumah sakit PONEK yang upaya untuk menurunkan kematian ibu dan bayi. Kita mempunyai dokter on-site yang siap menolong. Dokter kebidanan, dokter anak, dan dokter anestesi. Jadi kalau ada kegawatdaruratan, kita tidak terlambat untuk menangani,” jelasnya.

Menurut Lysbeth, Program SIGAP telah dijalankan RSUD Cengkareng sejak 2020 dan terus diperkuat. Salah satu upaya penguatan dilakukan melalui sosialisasi kepada jejaring fasilitas kesehatan di Jakarta Barat, Senin (5/10/2026).

Kegiatan tersebut diikuti 44 peserta dari berbagai fasilitas kesehatan yang menjadi bagian dari jejaring rujukan RSUD Cengkareng.

Sosialisasi dinilai penting untuk memastikan fasilitas kesehatan memiliki kepastian mengenai tujuan rujukan, prosedur, serta kesiapan tenaga medis dan fasilitas ketika harus mengirim pasien dalam kondisi gawat darurat.

“Karena mungkin mereka bingung mau kirim ke mana. Kalau kita adakan sosialisasi, mereka yakin, mereka percaya kepada RSUD. Bahwa ketika mereka mengirim pasien-pasien ibu hamil dan bayi baru lahir yang dalam keadaan gawat darurat yang harus segera ditangani, mereka percaya kepada dokternya, fasilitasnya, alur rujukannya dan fasilitas kesehatan yang ada di RSUD Cengkareng,” katanya.

Program SIGAP juga tidak hanya berfokus pada penanganan di rumah sakit. Unsur Tanggap dalam program tersebut turut diperkuat melalui edukasi kepada masyarakat dengan melibatkan jejaring puskesmas.

“Tanggapnya itu kita ke level masyarakat juga melalui Puskesmas. Tentunya peran ke masyarakat lebih banyak Puskesmas, tetapi kita ikut mengambil peran juga rumah sakit supaya masyarakat tahu dan tanggap,” ungkap Lysbeth.

Ia menekankan pentingnya kecepatan dalam menangani kondisi kegawatdaruratan ibu dan bayi karena setiap waktu sangat menentukan keselamatan pasien. “Setiap detik sangat berharga dalam menyelamatkan nyawa ibu dan buah hati,” ujarnya.

Dalam mendukung layanan tersebut, RSUD Cengkareng merupakan rumah sakit rujukan tipe B yang memiliki sejumlah fasilitas untuk penanganan pasien dengan kondisi kritis, di antaranya Neonatal Intensive Care Unit (NICU), Pediatric Intensive Care Unit (PICU), serta High Care Unit (HCU) Maternal.

Layanan SIGAP juga berlanjut setelah proses persalinan. RSUD Cengkareng berkomitmen akan melakukan pemantauan pascapersalinan dan memberikan dukungan laktasi bagi ibu dan bayi.

Penulis: Chofifah Lutfunnisa - Universitas Bakrie

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....