Kenali Tiga Perilaku Berisiko yang Rentan Dialami Remaja

  • 05 Okt 2026 16:04 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Masa remaja merupakan fase transisi dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan, baik secara fisik, hormonal maupun perkembangan otak. Pada fase ini, remaja juga rentan melakukan perilaku berisiko karena kemampuan mengendalikan emosi dan perilaku belum sepenuhnya berkembang seperti orang dewasa.

Psikiater dr. Kusuma Minayati, SpKJ, mengatakan perilaku berisiko merupakan perilaku yang dilakukan secara berulang atau berpola dan memiliki potensi membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Menurutnya, derasnya arus informasi saat ini membuat remaja semakin mudah mendapatkan berbagai informasi, baik yang positif maupun yang berpotensi membahayakan.

“Informasi sangat deras dan sangat mudah dicapai, baik yang benar maupun yang tidak benar. Karena itu, semakin perlu dilakukan penjagaan terhadap apa yang dikonsumsi atau menjadi input bagi remaja,” ujar dr. Kusuma dalam program Beranda Asta Cita Indonesia Sehat RRI Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.

Ia menyebut setidaknya ada tiga perilaku berisiko yang perlu menjadi perhatian orang tua dan lingkungan sekitar remaja. Pertama adalah self-harm atau perilaku menyakiti diri sendiri. Perilaku tersebut dapat berkaitan dengan masalah emosi dan pada sebagian kasus dapat disertai keinginan untuk mengakhiri hidup.

Menurut dr. Kusuma, self-harm tidak selalu muncul secara tiba-tiba, melainkan dapat berkaitan dengan berbagai pengalaman yang dialami remaja, seperti persoalan keluarga, tekanan akademik, perundungan, maupun masalah dalam hubungan sosial. Karena itu, perubahan perilaku remaja perlu dikenali sejak dini.

Perilaku berisiko kedua adalah kekerasan, baik terhadap teman, keluarga maupun orang lain, yang dilakukan secara individu ataupun berkelompok. Selain merugikan diri sendiri dan orang lain, perilaku tersebut juga dapat membawa remaja berhadapan dengan persoalan hukum dan mengganggu proses pendidikan serta perkembangannya.

Sementara perilaku berisiko ketiga adalah penyalahgunaan zat terlarang dan alkohol. Menurutnya, bentuk risiko ini juga berkembang mengikuti zaman. Jika sebelumnya remaja lebih banyak mengenal rokok konvensional, kini rokok elektronik atau vape juga perlu menjadi perhatian karena dapat digunakan sebagai media untuk memasukkan zat tertentu.

Dr. Kusuma menjelaskan, pengaruh teman sebaya menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena pada masa remaja, kebutuhan untuk diterima dalam kelompok mulai semakin kuat. Keinginan untuk mengikuti teman atau menjadi bagian dari suatu kelompok dapat membuat remaja mencoba perilaku tertentu tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun connection atau hubungan yang dekat dengan remaja. Orang tua, kakak, guru maupun lingkungan terdekat perlu memahami karakter, kebiasaan dan perubahan perilaku remaja agar dapat memberikan pendampingan secara tepat. Menurutnya, pendekatan kepada remaja tidak cukup hanya dengan melarang atau menghakimi.

“Yang kita hadapi adalah remaja. Kita enggak bisa menghadapi seperti saat dia kecil dulu yang mungkin caranya works, tapi belum tentu works lagi di usia saat ini,” katanya.

Ia menambahkan, komunikasi dengan remaja perlu dibangun secara konsisten dan tidak hanya dilakukan ketika muncul masalah. Dengan hubungan yang baik, orang tua akan lebih mudah menyampaikan pesan kesehatan maupun aturan tanpa membuat remaja merasa diserang.

“Kalau memang baru sadar atau baru ngeh ternyata komunikasinya kurang oke, enggak apa-apa. Kita tetap bisa bangun mulai dari sekarang supaya bisa menjadi lebih baik sehingga kita bisa mendampingi remaja untuk meraih potensinya semaksimal mungkin,” ujar dr. Kusuma.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....