Bedakan Speech Delay dan Language Delay pada Anak
- 16 Sep 2026 15:43 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Orang tua perlu memahami perbedaan speech delay dan language delay pada anak. Keduanya kerap dianggap sama karena sama-sama berkaitan dengan keterlambatan kemampuan berkomunikasi, padahal memiliki aspek yang berbeda.
Penulis, dosen, sekaligus pelatih literasi guru dan coach talenta Komunitas Rumah Bening, Dr. Sumarti, M.Pd., menjelaskan speech delay berkaitan dengan kemampuan anak dalam memproduksi bunyi. Sementara language delay lebih berkaitan dengan kemampuan menyimak, berbicara, dan penguasaan kosakata.
“Kalau speech itu kaitannya dengan produksi bunyi. Kalau language itu kaitannya ada kosakata, ada menyimak dan berbicara,” ujar Sumarti dalam dialog bersama RRI, Senin, 14 September 2026.
Menurutnya, selama anak mampu mengeluarkan bunyi yang bermakna sesuai dengan tahapan usianya, anak tersebut memiliki potensi untuk dapat berbicara. Persoalan berikutnya adalah apakah anak memperoleh kesempatan yang cukup untuk mendapatkan stimulasi dan berkomunikasi secara aktif.
Sumarti mencontohkan, anak berusia sekitar satu setengah tahun yang sudah mampu mengatakan kata seperti “mama” dan “papa” belum tentu mengalami speech delay. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan perkembangan kosakata dan kemampuan anak dalam menyimak serta berkomunikasi.
Ia mengatakan tanda-tanda keterlambatan sebenarnya dapat mulai diamati jauh sebelum anak berusia dua tahun. Pada usia sekitar sembilan bulan, misalnya, orang tua sudah dapat memperhatikan kemampuan anak mengeluarkan bunyi dan kata awal. Jika anak belum mampu mengeluarkan suara seperti “mama” atau “papa”, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian.
Selain kemampuan bicara, orang tua juga perlu memperhatikan kemampuan pendengaran anak. Sumarti menyebut pendengaran bayi perlu dipastikan sejak usia dua pekan. Respons anak terhadap suara dari sisi kanan dan kiri dapat menjadi salah satu hal yang diamati, karena gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi dapat turut memengaruhi perkembangan bicara.
Lebih lanjut, Sumarti mengingatkan keterlambatan bahasa yang tidak disadari dan tidak segera mendapatkan stimulasi dapat berdampak pada kemampuan anak ketika memasuki usia sekolah. Menurutnya, hambatan tersebut mulai terlihat pada usia sekitar lima hingga enam tahun dan dapat berlanjut pada kesulitan memahami bacaan ketika anak berusia delapan hingga sembilan tahun.
Karena itu, ia mengimbau orang tua tidak langsung panik ketika menemukan perbedaan perkembangan pada anak. Orang tua perlu mengamati tahapan perkembangan, memastikan anak mendapatkan kesempatan berkomunikasi dua arah, serta memberikan stimulasi sesuai kebutuhannya. “Jangan panik dulu. Anak-anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda,” kata Sumarti.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....