Diabetes di Indonesia Tinggi, Daewoong Luncurkan Terapi Baru bagi Pasien
- 28 Jun 2026 15:10 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Indonesia memiliki populasi diabetes dewasa terbesar kelima di dunia dengan 20,4 juta orang, peluncuran ini memperluas pilihan terapi bagi pasien di Indonesia.
- Data klinis pada pasien diabetes tipe 2 di Asia menunjukkan efektivitas penurunan gula darah serta pentingnya mempertimbangkan risiko metabolik, kardiovaskular, dan ginjal secara lebih luas.
- Korean Diabetes Association dan Perhimpunan Endokrinologi Indonesia menandatangani MOU untuk memperkuat penelitian bersama dan pendidikan medis.
RRI.CO.ID, Jakarta – Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF), Indonesia memiliki sekitar 20,4 juta orang dewasa dengan diabetes pada 2024. Jumlah ini menjadikannya negara dengan jumlah pasien diabetes dewasa terbesar kelima secara global. IDF memproyeksikan angka ini meningkat menjadi sekitar 28,6 juta pada 2050.
Dengan hampir 15 juta orang dewasa diperkirakan belum terdiagnosis, deteksi dini dan keberlanjutan terapi menjadi prioritas penting. Mengingat diabetes dapat menyebabkan komplikasi kardiovaskular dan ginjal yang serius, pendekatan terapi perlu melihat lebih jauh dari sekadar pengendalian gula darah, dengan turut mempertimbangkan risiko metabolik, kardiovaskular, dan ginjal dalam jangka panjang.
Daewoong Pharmaceutical Indonesia memiliki terobosan baru terkait penanganan diabetes yakni terapi enavogliflozin 0,3 mg di Indonesia, yaitu SGLT2 inhibitor untuk diabetes tipe 2 yang diluncurkan dalam kegiatan simposium ilmiah Forum Endokrinologi Nasional Ke-14 di Bandung, 27 juni 2026.
| Baca juga: KPAI Desak Pemerintah Terapkan Cukai MBDK |
Dalam simposium tersebut, Daewoong memaparkan data klinis dan landasan ilmiah dari SGLT2 inhibitor hasil pengembangan mandirinya. Diskusi berfokus pada pasien diabetes tipe 2 di Asia, yang dapat memiliki faktor risiko metabolik seperti resistensi insulin dan obesitas abdominal meskipun indeks massa tubuh atau body mass index (BMI) relatif lebih rendah, serta temuan studi klinis terkait hal tersebut.
“Peluncuran enavogliflozin 0,3 mg di Indonesia memiliki makna penting karena menghadirkan pilihan terapi baru bagi pasien, sekaligus mendorong diskusi ilmiah mengenai bagaimana kita dapat mengelola diabetes tipe 2 dengan lebih baik pada populasi kita," ujar Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD.

Menurutnya, Indonesia menghadapi beban diabetes yang terus meningkat, sehingga kolaborasi antara tenaga kesehatan, organisasi profesi, akademisi, dan industri menjadi penting untuk meningkatkan kualitas terapi serta luaran Jangka panjang pasien.
Pada sesi ilmiah berikutnya, Prof. Yong-ho Lee dari Division of Endocrinology and Metabolism, Yonsei University Severance Hospital, Korea Selatan yang hadir sebagai pembicara membagikan bukti klinis dan relevansi dalam negeri dari terapi baru tersebut. Terapi baru ini merupakan inhibitor SGLT-2 yang telah didukung oleh bukti klinis yang secara khusus diperoleh pada pasien Asia dengan diabetes melitus tipe 2.
"Dalam menangani pasien Asia, pemilihan terapi tidak hanya perlu mempertimbangkan efektivitas dalam menurunkan kadar glukosa darah, tetapi juga dampaknya terhadap parameter metabolik, seperti berat badan dan resistensi insulin," kata Prof. Yong-ho Lee.
Sementara itu, Prof. Dr. dr. Hikmat Permana, Sp.PD, K-EMD dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung menyampaikan bahwa keunggulan dari terapi ini adalah pasien akan mengeluarkan tingginya kadar gula didalam tubuh melalui urine.
Acara peluncuran Ini juga mencakup penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Korean Diabetes Association (KDA) dan Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). Kesepakatan ini dibentuk untuk memperkuat pertukaran akademik, penelitian bersama, dan pendidikan medis di bidang diabetes antara Korea Selatan dan Indonesia.
Prof. Sung-rae Kim, Chairman of the Korean Diabetes Association sekaligus Guru Besar Endokrinologi di Bucheon St. Mary's Hospital, The Catholic University of Korea, menjelaskan bahwa MoU ini menghubungkan dua komunitas medis yang memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan perawatan diabetes melalui penelitian ilmiah dan pendidikan. "Kami akan terus menciptakan peluang yang bermakna untuk pertukaran akademik melalui penelitian bersama dan kolaborasi pendidikan," ucapnya.
Seong-soo Park, CEO Daewoong Pharmaceutical, mengaku bangga dapat secara resmi meluncurkan terapi baru ini dan menyaksikan penandatanganan MoU yang bermakna antara organisasi diabetes Korea Selatan dan Indonesia.
"Daewoong akan secara aktif mendukung pertukaran akademik antara kedua organisasi, sekaligus memperluas kolaborasi dengan tenaga kesehatan dalam negeri. Lebih dari sekadar menyediakan produk, kami ingin berkontribusi pada peningkatan kualitas tata laksana diabetes di Indonesia," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....