Polip Rahim Picu Pendarahan hingga Penurunan Peluang Hamil
- 26 Mei 2026 17:41 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Polip rahim atau polip endometrium menjadi salah satu gangguan kesehatan reproduksi yang sering tidak disadari perempuan, meski kondisi tersebut dapat memicu pendarahan menstruasi tidak normal hingga menurunkan peluang kehamilan. Minimnya gejala yang spesifik membuat banyak kasus baru terdeteksi setelah keluhan berlangsung cukup lama.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Columbia Asia Hospital Pulomas Francesca Ivanna menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kondisi tersebut. Polip endometrium dapat memicu pendarahan menstruasi yang tidak teratur hingga memengaruhi peluang kehamilan, terutama pada pasangan yang sedang menjalani program mendapatkan keturunan.
“Berdasarkan data medis, prevalensi polip endometrium ditemukan pada sekitar 10 persen hingga 30 persen wanita yang mengalami keluhan perdarahan uterus abnormal. Kondisi tersebut juga disebut dapat mengurangi tingkat implantasi embrio di dalam rahim sehingga berpotensi menurunkan keberhasilan kehamilan,” kata dr. Ivanna, di Jakarta, Selasa, 26 Mei 2026.
Menurut Ivanna, banyak pasien baru mengetahui keberadaan polip setelah keluhan berlangsung cukup lama. Gejalanya sering tidak khas sehingga membuat pasien menunda pemeriksaan lebih lanjut.
“Polip endometrium sering kali underdiagnosed karena gejalanya tidak spesifik, seperti flek di luar siklus haid atau sulit hamil. Melalui histeroskopi, kami tidak hanya melihat kondisi rahim secara langsung dengan kamera khusus, tetapi juga dapat melakukan pengangkatan polip dalam satu prosedur yang sama tanpa sayatan besar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, metode pemeriksaan modern seperti histeroskopi kini menjadi salah satu pendekatan yang dinilai memiliki tingkat akurasi tinggi dalam mendeteksi kelainan di rongga rahim. Teknologi tersebut memungkinkan dokter melihat kondisi rahim secara langsung dan melakukan tindakan penanganan pada prosedur yang sama.
Pendekatan ini dinilai memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan metode konvensional seperti kuretase maupun pemeriksaan ultrasonografi tertentu yang memiliki keterbatasan visualisasi. Prosedur minimal invasif juga disebut dapat mengurangi risiko komplikasi dan mempercepat masa pemulihan pasien.
Pihaknya menilai edukasi mengenai kesehatan reproduksi perempuan masih perlu diperkuat. Banyak perempuan baru memeriksakan diri ketika keluhan mulai mengganggu aktivitas atau saat mengalami hambatan dalam memperoleh keturunan.
Deteksi dini dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap kesehatan reproduksi. Dengan pemeriksaan yang tepat, risiko gangguan kesuburan maupun komplikasi lain akibat kelainan pada rahim diharapkan dapat diminimalkan sedini mungkin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....