Studi HCC : 6 dari 10 Anak Muda Urban Memilih Swadiagnostik saat Sakit

  • 13 Mei 2026 21:32 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena swadiagnostik atau self-diagnosis di kalangan anak muda urban Indonesia kini menjadi perhatian serius. Studi terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) menemukan hampir 60% anak muda usia di bawah 40 tahun memilih melakukan swadiagnosis terlebih dahulu ketika mengalami keluhan kesehatan, dan tidak langsung berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan.

Penelitian ini dilakukan pada Maret–Mei 2026 melalui pendekatan mixed-method yang melibatkan survei terhadap 448 responden urban dari berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH mengatakan, fenomena ini tidak bisa dipandang sekadar perubahan perilaku digital biasa. “Swadiagnostik saat ini sudah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban. Internet, mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi ‘dokter pertama’ bagi banyak anak muda sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan,” ujar Dr. Ray di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.

Studi HCC dengan research associate Yoli Farradika ini menemukan bahwa Google dan mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis, diikuti website kesehatan dan konten digital lainnya. Keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernafasan dan kardiovaskular, pencernaan, hingga masalah psikologis.

Fenomena ini sejalan dengan istilah global cyberchondria, yaitu kondisi meningkatnya kecemasan kesehatan akibat pencarian informasi medis secara berlebihan di internet.

Yang menjadi perhatian, studi ini juga menemukan bahwa ternyata 36% responden langsung melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa ke dokter, serta 27% mengabaikan resep dokter karena bertentangan dengan informasi internet.

Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa 57% hasil swadiagnostik ternyata dikonfirmasi benar oleh dokter. Menurut Dr Ray, temuan ini menjelaskan mengapa perilaku swadiagnostik semakin menguat.

“Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya beberapa kali terbukti benar, maka kepercayaan terhadap proses swadiagnosis akan meningkat. Ini bisa membentuk ilusi kompetensi medis semu di masyarakat, karena sebenarnya yang dinaggap cocok dengan dokter itu bisa jadi hanya hasil skrining risiko penyakit dan bukan diagnosis” kata Dr. Ray yang sering memberi edukasi lewat akun instagram @ray.w.basrowi.

Penelitian juga menunjukkan bahwa responden dengan riwayat penyakit kronis memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar melakukan swadiagnostik dibanding kelompok lainnya. Menurut HCC, hal ini menggambarkan adanya kelelahan sistemik (system fatigue) di masyarakat urban modern.

“Sebagian masyarakat merasa datang ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu panjang, antre, biaya tambahan, dan energi emosional. Akhirnya internet dianggap lebih praktis, lebih cepat, lebih murah, dan terasa lebih personal,” ucap Dr. Ray yang merupakan pengajar kedokteran komunitas ini.

Penelitian juga menemukan bahwa lebih dari separuh responden merasa swadiagnosis lebih nyaman dibanding datang langsung ke fasilitas kesehatan karena dianggap lebih praktis, lebih hemat biaya, dan tidak perlu antre. Menurut HCC, fenomena ini menjadi sinyal penting bahwa sistem kesehatan modern tidak lagi hanya bersaing dengan penyakit, tetapi juga dengan banjir informasi digital.

“Ke depan, tantangannya bukan melarang masyarakat mencari informasi kesehatan di internet, itu hampir mustahil. Tantangannya adalah bagaimana negara, tenaga kesehatan, platform digital, dan institusi pendidikan membangun literasi kesehatan digital yang sehat dan bertanggung jawab,” ujar Dr. Ray.

HCC menilai bahwa peningkatan literasi kesehatan digital perlu menjadi agenda nasional baru, terutama di era AI dan algoritma media sosial yang semakin memengaruhi keputusan kesehatan masyarakat sehari-hari. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa meskipun kepercayaan terhadap dokter masih relatif tinggi, masyarakat kini semakin menjadikan internet sebagai alat rekonfirmasi terhadap diagnosis dan terapi medis.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....