Jaga Kesehatan Otak, Ini Pola Makan yang Bantu Cegah Demensia
- 23 Apr 2026 18:55 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Pola makan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan otak sejak dini. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal medis American Academy of Neurology melalui jurnal Neurology mengungkap bahwa kualitas makanan berbasis nabati dapat memengaruhi risiko demensia, yaitu gangguan yang berdampak pada daya ingat, kemampuan berpikir, hingga aktivitas sehari-hari.
Menurut siaran World Heart Organization, studi menunjukkan faktor risiko utama meliputi usia, genetik, merokok, alkohol, dan gaya hidup sedentary. Pencegahannya melibatkan aktivitas fisik, diet sehat, dan stimulasi kognitif.
Dalam analisisnya, tim peneliti membagi pola makan berbasis nabati ke dalam tiga kategori. Pertama, indeks diet nabati secara umum yang mengukur total konsumsi makanan berbasis tumbuhan tanpa melihat kualitasnya. Kedua, indeks diet nabati sehat yang mencakup makanan kaya nutrisi seperti biji-bijian utuh, sayuran, buah, kacang-kacangan, serta minyak nabati. Ketiga, indeks diet nabati tidak sehat yang berfokus pada konsumsi makanan olahan, gula tambahan, dan produk rendah nutrisi.
Hampir 10 juta kasus baru terjadi setiap tahun di seluruh dunia. Di Indonesia, diproyeksikan 4 juta orang hidup dengan demensia (ODD) pada tahun 2050. Alzheimer adalah penyebab terbanyak, diikuti demensia vaskular dan Lewy body.
Penelitian ini juga menemukan bahwa selain usia, faktor yang dapat diubah meliputi hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, dan kurangnya interaksi sosial. Dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan status mental seperti Mini Mental State Examination (MMSE) atau Montreal Cognitive Assessment (MOCA), dan studi pencitraan seperti MRI.
Lebih lanjut, penurunan konsumsi bahan makanan seperti biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan minyak nabati berkaitan dengan peningkatan risiko antara 11-15 persen. Konsumsi gula tambahan juga terbukti berkontribusi terhadap kenaikan risiko demensia sebesar 12 persen. Menariknya, penurunan konsumsi telur juga ditemukan memiliki kaitan dengan peningkatan risiko hingga 12 persen.
Meski demikian, peneliti mengakui adanya keterbatasan dalam studi ini, seperti penggunaan data klaim kesehatan dan kuesioner yang bergantung pada ingatan peserta. Hal ini memungkinkan adanya ketidaktepatan dalam pelaporan pola makan maupun diagnosis.
Terlepas dari itu, temuan ini menegaskan bahwa tidak semua makanan berbasis nabati otomatis menyehatkan. Pemilihan jenis makanan tetap menjadi kunci utama. Mengutamakan bahan pangan yang alami, minim proses, dan kaya nutrisi dinilai lebih efektif dalam menjaga fungsi otak.
Dengan demikian, menjaga kesehatan otak tidak hanya soal menghindari makanan tertentu, tetapi juga memastikan kualitas asupan harian. Kombinasi pola makan seimbang, baik dari sumber nabati maupun hewani, dapat menjadi langkah penting untuk menekan risiko demensia sejak dini.
(Kayla Maiza - Institut Bisnis & Informatika Kosgoro 1957 Jakarta)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....