Kardiolog Jelaskan Risiko Jantung pada Tubuh Bugar

  • 05 Mar 2026 15:18 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Kebugaran fisik sering dianggap sebagai indikator utama kesehatan tubuh. Namun, dokter spesialis jantung mengingatkan bahwa seseorang yang bugar tetapi kelebihan berat badan tetap memiliki risiko terhadap kesehatan jantung.

Konsultan senior kardiologi intervensi Rumah Sakit KIMS Bengaluru, India, Dr. P. Ashok Kumar, menilai kondisi “bugar tapi gemuk” tidak bisa dipahami secara sederhana. Menurutnya, penilaian kesehatan jantung harus melihat berbagai faktor secara menyeluruh.

Dikutip dari laman resmi media hindustantimes.com Kamis, 5 Maret 2026 “Dari sudut pandang saya, jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa sesederhana 'ya' atau 'tidak',” kata Dr. P. Ashok Kumar. Ia menegaskan bahwa tingkat kebugaran dan komposisi tubuh harus dievaluasi bersama dalam menilai risiko kardiovaskular jangka panjang.

Ia menjelaskan seseorang yang rutin berolahraga seperti aerobik atau latihan beban memang dapat meningkatkan kesehatan jantung. Bahkan, beberapa orang yang kelebihan berat badan tetap memiliki tekanan darah normal dan daya tahan tubuh yang baik.

“Memang benar bahwa seseorang yang 'gemuk' dan bukan 'bugar' mungkin memiliki kebugaran kardiovaskular yang baik, tekanan darah normal, kadar kolesterol yang baik, dan tidak menunjukkan gejala diabetes,” ujarnya. Kondisi ini membuat sebagian orang menganggap berat badan berlebih tidak menjadi masalah.

Meski demikian, manfaat kebugaran pada orang dengan kelebihan lemak tubuh bisa bersifat sementara. Lemak berlebih tetap memberikan tekanan tambahan pada organ tubuh, termasuk jantung.

“Kebugaran tidak sepenuhnya menetralkan risiko kardiovaskular yang terkait dengan kelebihan lemak tubuh,” kata Dr. P. Ashok Kumar. Ia menambahkan bahwa obesitas tetap menjadi faktor risiko penyakit jantung dalam jangka panjang.

Menurutnya, obesitas dapat memicu berbagai gangguan metabolik. Kondisi ini berkaitan dengan peradangan, resistensi insulin, hingga peningkatan kadar trigliserida yang dapat memicu aterosklerosis.

“Obesitas khususnya dikaitkan dengan peradangan, resistensi insulin, peningkatan kadar trigliserida, aterosklerosis, dan berbagai faktor risiko lainnya yang pada akhirnya menyebabkan penyakit jantung, gagal jantung, atau stroke seiring waktu,” jelasnya.

Selain jumlah lemak tubuh, lokasi penyimpanan lemak juga menjadi faktor penting. Lemak visceral yang mengelilingi organ dalam disebut memiliki risiko lebih besar dibandingkan lemak yang berada di bawah kulit.

“Dua orang dapat memiliki BMI yang sama, namun risiko penyakit jantung mereka sangat berbeda tergantung pada lokasi cadangan lemak tubuh mereka,” ujarnya. Oleh karena itu, lingkar pinggang dan rasio pinggul-pinggang juga digunakan untuk menilai risiko penyakit jantung.

Ia menekankan bahwa menjaga kebugaran tetap penting bagi kesehatan tubuh. Namun, upaya tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan berat badan agar risiko penyakit jantung dapat ditekan.

(Aura Putri Fadillah – UIN Sunan Gunug Djati Bandung).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....