Mikrobioma Usus Pengaruhi Tingkat Kecemasan

  • 02 Mar 2026 14:12 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Gangguan mikrobioma usus disebut dapat memperburuk kecemasan dan memicu masalah pencernaan seperti kembung hingga diare. Ahli bedah asal Inggris mengungkapkan, kondisi ini terjadi akibat terganggunya komunikasi antara usus dan otak.

Dilansir dari laman resmi media hindustantimes.com Senin, 2 Maret 2026 Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental dan sistem pencernaan saling berkaitan erat. Ketika salah satunya terganggu, dampaknya dapat dirasakan langsung pada organ lainnya.

Dr. Karan Rajan menjelaskan bahwa usus dan otak terhubung melalui poros usus-otak yang bekerja secara dua arah. Hubungan ini membuat sinyal dari usus mampu memengaruhi suasana hati seseorang.

Ia mengatakan, “Otak Anda dapat memengaruhi usus Anda, tetapi usus Anda juga dapat mengganggu otak Anda. Sekitar 90 persen serotonin Anda diproduksi di usus dan di sinilah ia mengatur motilitas usus, sinyal nyeri, dan mual melalui saraf vagus.”

Menurutnya, ketika sinyal serotonin usus terganggu, pergerakan usus ikut berubah dan meningkatkan sensitivitas terhadap rasa sakit. Otak kemudian menafsirkan sinyal abnormal tersebut sebagai ancaman sehingga memicu kecemasan.

Selain serotonin, mikrobioma usus juga berperan dalam menghasilkan asam lemak rantai pendek dari fermentasi serat makanan. Senyawa ini membantu mengatur peradangan dan keseimbangan neurotransmiter dalam tubuh.

Ia menjelaskan, “Gangguan mikrobioma dapat meningkatkan permeabilitas usus sehingga memungkinkan molekul inflamasi bocor ke dalam sirkulasi darah, sehingga memengaruhi suasana hati. Ini menciptakan lingkaran setan.”

Lingkaran setan itu terjadi ketika stres memicu gangguan usus, lalu gangguan tersebut meningkatkan peradangan dan kecemasan. Kondisi ini sering terlihat pada penderita Irritable Bowel Syndrome (IBS) yang memiliki respons stres lebih tinggi.

Untuk memutus siklus tersebut, Dr. Rajan menyarankan peningkatan asupan serat, tidur cukup tujuh hingga delapan jam, serta rutin bergerak. Langkah sederhana ini dinilai efektif menjaga keseimbangan mikrobioma dan stabilitas emosi.

(Aura Putri Fadillah - Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....