Ahli Gizi IPB: Gemuk Belum Tentu Sehat, Kecil Belum Tentu Stunting

  • 26 Feb 2026 13:48 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat dan maraknya informasi kesehatan di media sosial, berbagai mitos tentang gizi masih terus bertahan di masyarakat.

"Beberapa mitos yang beredar itu misalnya, anak bertubuh gemuk kerap dianggap sebagai tanda sehat dan cukup gizi. Makan malam sebagai penyebab utama kenaikan berat badan. Sementara nasi sering dituding sebagai penyebab utama perut buncit dan mitos lainnya yang itu belum tentu benar," kata Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof Ali Khomsan, dikutip dari press release IPB University, Kamis, 26 Februari 2026.

Lebih lanjut, Pakar Gizi IPB University menilai anggapan tersebut lahir dari cara pandang lama yang belum sepenuhnya memahami prinsip gizi seimbang.

"Ukuran kesehatan tidak dapat ditentukan hanya dari tampilan fisik. Persepsi yang keliru justru berisiko memicu berbagai penyakit kronis sejak usia muda," ungkapnya.

Jadi, kalau zaman dulu gemuk dianggap lambang kemakmuran atau kesejahteraan, sekarang masyarakat mulai menyadari bahwa gemuk juga membuat seseorang lebih mudah terekspos penyakit.

"Jadi indikator anak sehat seharusnya mengacu pada kesesuaian berat badan dan tinggi badan berdasarkan standar medis. Kegemukan menjadi faktor risiko penting munculnya hipertensi, diabetes, gula, hingga gangguan metabolik lainnya," jelasnya.

Jadi kekhawatiran orang tua terhadap anak bertubuh kecil yang terkadang menimbulkan salah persepsi anak mengalami kurang gizi atau bahkan kena stunting itu belum tentu benar.

"Stunting itu ada ukurannya, dan setiap posyandu, puskesmas mengetahui standarnya. Misalnya anak usia lima tahun tingginya hanya 90 sentimeter, maka itu stunting karena indikatornya tinggi badan,” terangnya.

Kemudian Prof. Ali Khomsan itu juga meluruskan mitos atau anggapan bahwa makan malam menjadi penyebab utama kenaikan berat badan yang menurutnya itu juga tidak sepenuhnya benar.

"Sebenarnya persoalannya itu terletak pada jeda waktu antara makan dan tidur. Tubuh ini membutuhkan jeda empat sampai lima jam antara makan dan waktu tidur agar proses pencernaan berlangsung optimal,” tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....