Waspadai Hidden Hunger Pada Anak
- 23 Jan 2026 10:17 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia menghadapi tantangan baru berupa hidden hunger pada anak. Pada kondisi tersebut, anak akan tampak sehat dan aktif, namun ternyata mengalami kekurangan gizi, terutama zat besi, zinc, dan vitamin D. Hal ini disebabkan karena pola makan yang tidak seimbang.
Seorang Dokter Gizi Klinik, Monique Carolina Widjaja, menjelaskan bahwa kesalahan nutrisi pada anak kerap terjadi tanpa disadari orang tua. Bahkan, hal ini seringkali dianggap sebagai hal yang wajar.
“Banyak orang tua fokus pada rasa kenyang, bukan kandungan gizi. Akibatnya, anak mendapat asupan karbohidrat berlebih, tetapi kekurangan protein hewani dan mikronutrien penting,” ujar Monique.
Adapun saat ini, Indonesia menghadapi tantangan triple burden of malnutrition, yakni stunting, obesitas, dan defisiensi mikronutrien pada anak. Meski angka stunting menurun, namun masalah gizi lain justru semakin menguat.
Menurut Monique, peningkatan konsumsi makanan ultra-proses (ultra processed food/UPF) menjadi salah satu pemicu utama masalah gizi anak. Seperti konsumsi nugget, sosis, sereal manis, hingga camilan kemasan.
“Makanan ini sangat lezat dan praktis, tapi rendah kualitas gizi. Dalam jangka panjang, dapat merusak sinyal kenyang alami, memicu obesitas, serta meningkatkan risiko penyakit metabolik sejak usia muda,” katanya.
Menurutnya, masalah nutrisi anak sering tidak terdeteksi, lantaran gejalanya yang tidak selalu kasat mata. Adapun beberapa tanda yang perlu diwaspadai adalah ketika anak mudah lelah dan sulit berkonsentrasi, sariawan berulang atau gusi mudah berdarah, rambut kusam, mudah rontok, dan kuku rapuh, serta anak sering sakit maupun mengalami infeksi berulang.
Untuk itu, penting untuk melakukan skrining gizi rutin, meskipun anak terlihat sehat dan aktif. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi hidden hunger sejak dini, memantau pertumbuhan jangka panjang, serta mencegah stunting terselubung, obesitas, dan penyakit tidak menular di masa depan. Adapun skrining gizi yang ideal, meliputi pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala dan lengan, pemeriksaan fisik (kulit, rambut, mulut, konjungtiva), evaluasi pola makan harian, serta pemeriksaan laboratorium bila diperlukan, termasuk darah lengkap dan status mikronutrien.
Dengan edukasi yang tepat dan pemantauan rutin, maka masalah gizi pada anak sebenarnya dapat dicegah sejak dini. Kesalahan nutrisi pada masa anak-anak tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada daya tahan tubuh dan produktivitas anak di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....