Banjir Datang, Leptospirosis Mengintai di Balik Genangan
- 23 Jan 2026 09:38 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Musim hujan dengan curah tinggi kerap dipersepsikan hanya sebagai soal banjir dan kemacetan. Namun di balik genangan air yang tampak biasa, ancaman penyakit zoonosis seperti leptospirosis diam-diam mengintai warga perkotaan, terutama di kawasan padat dan rawan sanitasi.
Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin mencatat musim hujan dengan intensitas tinggi selalu beriringan dengan munculnya penyakit berbasis lingkungan. Leptospirosis termasuk dalam daftar penyakit yang perlu diwaspadai bersama diare, DBD, ISPA, penyakit kulit, dan demam tifoid akibat air dan makanan yang terkontaminasi.
“Genangan air banjir menjadi media penularan berbagai penyakit, terutama leptospirosis yang berasal dari urin tikus,” ujar keterangan Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin dalam rilis kesehatannya. Kondisi lingkungan yang lembap serta kebersihan diri yang menurun memperbesar risiko penularan di permukiman padat.
Kementerian Kesehatan menegaskan leptospirosis merupakan penyakit infeksi bakteri Leptospira yang masuk ke tubuh melalui kulit lecet atau selaput lendir. Penularan umumnya terjadi saat warga bersentuhan langsung dengan air banjir, lumpur, sungai, atau selokan yang tercemar.
“Bakteri leptospira dapat masuk melalui luka kecil yang sering tidak disadari,” ujar Kemenkes dalam laman resminya. Karena itu, kebiasaan mencuci kaki dan tangan dengan sabun setelah menerjang genangan air disebut sebagai langkah sederhana namun sangat efektif.
Masalahnya, gejala awal leptospirosis kerap menyerupai flu biasa. Demam mendadak, tubuh lemah, mata memerah, sakit kepala, hingga nyeri otot betis sering dianggap keluhan ringan dan diobati sendiri.
Padahal, Kemenkes mengingatkan pada fase lanjut, leptospirosis dapat menyebabkan gangguan serius seperti penyakit kuning, kerusakan ginjal, hingga perdarahan. “Jika muncul gejala, masyarakat diminta segera ke fasilitas kesehatan dan tidak melakukan pengobatan mandiri,” ucap Kemenkes.
Panduan teknis WHO tentang leptospirosis yang kami akses pada Jumat, 23 Januari 2026, menyebut penyakit ini sebagai masalah kesehatan global yang sering luput dari perhatian di negara berkembang. WHO menekankan bahwa risiko meningkat di wilayah dengan sanitasi buruk, pengelolaan sampah tidak memadai, serta populasi tikus yang tidak terkendali.
WHO juga merekomendasikan pencegahan berbasis komunitas, mulai dari penggunaan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan, pengendalian hewan pengerat, hingga edukasi masyarakat tentang bahaya kontak langsung dengan air banjir. Deteksi dan pengobatan dini disebut krusial untuk menekan angka kematian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....